Majelis Misykat: Kemandirian Ekonomi Ala Khadijah

 

Majelis Misykat: Kemandirian Ekonomi Ala Khadijah

Majelis Misykat: Kemandirian Ekonomi Ala Khadijah

Rekatan silaturahim mengikat Siti Khadijah (63) yang bergabung di Majelis Microfinance Syariah Berbasis Masyarakat (Misykat) Nurul Qomar Dompet Peduli Ummat (DPU) Daarut Tauhiid. Selasa (14/2), di kediamannya di Loji, Bogor, anggota Misykat dari Majelis Nurul Qomar tersebut menyampaikan harapan yang besar. Ia berharap Majelis Nurul Qomar dapat terus maju dan berkembang. “Setiap pendamping berganti bisa lebih maju aja,” tuturnya.

Sudah lebih dari 15 tahun, ia menjadi anggota Misykat Majelis Nurul Qomar. Pertama kali bergabung tahun 1997, namun ia telah aktif di pengajian DPU Daarut Tauhiid sejak 1996. “Saya dan suami asli Sukabumi, dan sudah 25 tahun tinggal di Bogor,” ungkapnya. Ibu lima orang anak ini mengungkapkan mendapat banyak pengalaman dan ilmu dari Majelis Misykat Nurul Qomar. “Saya sering ikut pengajian ke Bandung, ke Masjid Raya, tahsin quran juga,” katanya.

Dahulu sebelum ada Misykat, Khadijah hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Suaminya sehari-hari bekerja di Pasar Bogor sebagai penjual bumbu dapur. Ketika program Misykat ada, ia pun langsung bergabung. “Sekarang, saya udah bisa bantu perekonomian keluarga,” ujarnya.

Saat ini, Khadijah yang berwirausa dalam penjualan keripik pisang telah memiliki pelanggan tetap di banyak pasar dan areal perkantoran di Kota Bogor. “Keripik saya ini, nyablonnya juga di DPU Daarut Tauhiid. Jadi, benar-benar diberdayakan,” katanya.

Ia pun menambahkan, ide usaha keripik pisang tersebut berasal dari saudaranya. Seringkali saudaranya yang berasal dari Lampung membawa banyak sekali pisang untuk dijual di Bogor. Saking banyaknya, pisang yang tak laku membusuk. Dari situlah, ide keripik pisang ini muncul. “Sekarang, sehari bisa ngabisin tiga kuintal, empat kuintal,” katanya. Dari penjualan pisang, alhamdulillah Khadijah bisa menabung kurang lebih 300 ribu rupiah setiap bulannya.

Hanya ada satu kendala yang Khadijah rasakan yaitu tempat. “Repot kalau menggoreng mesti di tempat terbuka,” ujarnya. Selama ini, tempat yang ia gunakan untuk menggoreng adalah dapur rumah. Karena itu, ia berencana mencari lokasi produksi yang tidak menyatu dengan rumahnya. (Taufik Hidayat/2012)

 

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s