Agama dan Masalah Kemiskinan

Masalah kemiskinan seolah tidak ada habisnya. Hampir ditiap negara, orang miskin selalu saja ada. Apalagi di Indonesia. Ya, memang itu masalah yang hingga kini belum selesai. Menurut saya, permasalahannya terletak pada sumber daya manusia di Indonesia yang belum kuat. Belum optimal. Hal ini terjadi karena saling keterkaitan antara kemiskinan dengan pendidikan yang rendah. Entah karena pendidikan yang rendah mengakibatkan kemiskinan atau sebaliknya. Namun, ini harus kita sadari bahwa kedua masalah ini perlu dituntaskan dengan segera.

Untuk mengatasi pendidikan yang rendah harus ada kepedulian dan perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan penyebaran pendidikan yang merata di seluruh Indonesia. Sehingga, mereka (masyarakat miskin) dapat menikmati pendidikan setinggi-tingginya dengan biaya sangat rendah. Karena itu, bila sumber daya manusia itu bagus, kuat, maka akan menghasilkan produk-produk yang bagus pula. Oleh karena itu, produk-produk yang dihasilkan masyarakat Indonesia itu akan berguna bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Sebenarnya, masalah-masalah tadi merupakan tanggungjawab pemerintah Indonesia terhadap rakyatnya. Namun, sejak negeri ini merdeka tahun 1945 hingga sekarang, saya belum melihat keseriusan pemerintah dalam menangani masalah pendidikan dan kemiskinan. Dulu untuk pendidikan, dana yang dianggarkan sekitar 7 % atau di bawah 10 %. Alhamdulillah, melalui amandemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang dilahirkan MPR tahun 1999-2004, yang dicantumkan minimal 20 % pemerintah harus menganggarkan dana bagi kepentingan pendidikan. Ini harapan besar bagi kita, jika alokasi pendidikan sudah mencapai sebesar itu, dan bila didukung semua atau swasta yang punya keberpihakan, insya Allah akan menghasilkan pemerataan dalam pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan.

Meski memang dalam UUD 1945 disebutkan bahwa anak-anak miskin dan terlantar dipelihara negara atau mendapatkan jaminan hidup dari pemerintah, namun itu sampai sekarang belum terwujud. Saya kira itu tuntutan dari konstitusi yang harus menjadi perhatian pemerintah sekarang ini. Memang, masalah kemiskinan di Indonesia ini bagaikan piramida. Terlalu banyak orang miskin dibandingkan orang kaya. Terlalu banyak mustahik (penerima zakat) dibandingkan muzaki (pemberi zakat). Jadi, walaupun semua orang kaya di Indonesia mengeluarkan zakatnya, 2.5 %, pasti tidak akan mencukupi karena orang yang menerimanya terlalu banyak. Persentasenya tidak seimbang.

Jadi, jika pemerintah mengurus kemiskinan dan anak-anak terlantar di seluruh Indonesia, maka akan kehabisan devisa atau anggaran negara. Pasti tidak akan cukup. Meski begitu, tetap saja pemerintah harus memerhatikan dan bekerja keras mengurus dan mencarikan solusi yang terbaik untuk orang-orang miskin dan anak-anak terlantar agar sejahtera. Sehingga, dari tahun ke tahun orang-orang miskin atau anak-anak terlantar itu jumlahnya berkurang. Kalau sekarang yang tampak adalah pihak swasta yang banyak menanggulangi orang-orang miskin dan anak-anak dhuafa. Salah satunya organisasi masyarakat (ormas) Muhammadiyah, yang banyak membuat amal-amal usaha yang diperuntukkan untuk orang-orang miskin. Muhammadiyah membuat panti asuhan, rumah sakit, sekolah-sekolah, dana usaha kredit mikro, dan pembinaan keagamaaan, yang semuanya itu sebagai bentuk pelayanan publik.

Bila melihat definisi amal saleh, yaitu melakukan aktivitas orang banyak atau memerhatikan kehidupan masyarakat miskin dan sosial. Perlu diketahui, setiap kata-kata iman kepada Allah yang terdapat dalam al-Quran pasti diiringi dengan amal saleh. Hal ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap masyarakat dhuafa dan kepedulian sosial.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa tidak akan disebut beriman bila tidak memerhatikan saudaranya sendiri. Jadi, yang diajarkan Nabi di masa awal Islam di Mekah, adalah tentang kepedulian sosial. Sedangkan ukuran orang yang disebut beragama itu, dalam surat al-Maun disebutkan, adalah mereka yang memberi makan anak yatim dan tidak menelantarkan atau menghardiknya. Dalil ini menjadi ukuran bahwa orang yang beragama adalah yang mempunyai kepedulian sosial terhadap kehidupan masyarakat dhuafa. Sedangkan yang disebut pendusta agama adalah orang yang tidak memberi makan orang miskin, atau tidak peduli pada anak yatim.

Peran Dakwah Kurang Aplikaf

Bila kita analisa, kenapa posisi agama itu tidak tampak berperan dalam kehidupan sosial? Saya melihatnya itu karena pola dakwah yang terlalu kognitif. Pembinaan dakwah kita hanya sebatas pemikiran dan informasi saja. Belum menyentuh pada pola dakwah yang aplikatif pada psikomotorik atau keperibadian.

Saya melihat banyak orang yang berpengetahuan agamanya tinggi, tapi perilakunya tak mencerminkan orang beragama. Adakalanya kyai tidak sesuai dengan ke-kyai-annya. Ada juga sarjana yang tidak sesuai dengan kesarjanaannya. Inilah yang ada di masyarakat. Karena itu, untuk saat ini sangat dibutuhkan pola dakwah membina keperibadian orang dan memerhatikan hal-hal praktis bagi masyarakat. Misalnya, kita ajak masyarakat untuk yakin dan berusaha dalam mengisi kehidupan dunia dengan baik. Kita arahkan masyarakat, bila sakit ajak ke dokter dan suruh berdoa kepada Allah, bukan ke dukun. Kita fasilitasi keberadaan anak-anak yatim dan dhuafa dalam panti-panti asuhan. Kita berikan dana usaha atau kredit mikro agar kaum miskin dan dhuafa bisa mempunyai penghasilan dan tetap beribadah.
Sebuah Kecelakaan

Menurut saya, Islam tidak menganjurkan orang untuk hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan itu sebuah kecelakaan atau sesuatu yang tidak diinginkan di dunia ini. Agama apa pun di dunia ini melarang umatnya untuk hidup dalam kemiskinan. Dalam al-Quran saya menemukan kalimat, janganlah kamu meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan lemah. Ini merupakan peringatan dari Allah SWT. Ada juga kalimat, Allah sangat mencintai orang-orang yang kuat, kaya, dan peduli pada orang-orang miskin.

Rasulullah saw dalam salah satu hadis mengatakan bahwa kefakiran mendekatkan pada kekufuran. Kata fakir ini maknanya adalah orang-orang yang merasakan dirinya selalu tak cukup. Selalu mencari kepuasan dengan berbagai cara. Jika ada iming-iming harta, ia ikut ke sana. Memang, seperti itu ciri dan kelakuan orang fakir itu. Yang dianjurkan Allah SWT adalah harus qanaah, merasa cukup atas apa pun yang kita terima dari Allah SWT dalam kehidupan ini. Selalu bersyukur kepada Allah. Ini yang pertama. Yang kedua, adalah harus zuhud. Ia tidak terpengaruh dengan dunia. Meski ia kaya tapi tak diperbudak dengan harta atau dunia. Jadi, qanaah dan zuhud itu suatu pasangan yang baik, yang perlu diterapkan dalam kehidupan kita.

Tapi, mengapa masih juga ada umat Islam yang berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Inilah masalah lainnya. Memang itu harus diakui. Tapi yang jelas, jika umat Islam ingin kaya atau cukup dalam persoalan ekonomi dan terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya, harus melakukan bisnis. Belajar dan pelajari keterampilan hidup atau teknologi agar kita bisa bekerja dan mengisi kehidupan. Di dalam al-Quran surah Mujadillah ayat 11 disebutkan, bahwa Allah akan mengangkat orang-orang beriman dan yang mempunyai ilmu pengetahuan beberapa derajat dari orang-orang biasa. Makna iman pada ayat ini adalah untuk memantapkan keyakinan kepada Allah atau menguatkan batin kita supaya baik, tenang, dan tenteram. Sedangkan ilmu, maknanya adalah untuk menggali atau mengembangkan usaha di dunia. Yang saya lihat di Indonesia ini, umat Islam itu miskin bukan karena faktor keimanan. Tapi aspek ilmu dan rendahnya pendidikan, sehingga kalah bersaing dengan dunia luar. Juga akses dalam informasinya sangat kurang. Inilah hal-hal yang harus dicarikan solusinya.

Jadi, kalau umat Islam Indonesia ingin kaya, ya bisnis. Kuasai ilmunya. Cari modal yang cukup. Buka akses ke dunia pasar. Baru kemudian dikuatkan dengan nilai-nilai keagamaan. Kalau tidak sinergis, dalam kehidupan dan fasilitas untuk hidup, maka tak akan terwujud. Jadi, faktor struktural dan infrastruktur harus dipadukan bila ingin sejahtera dan makmur.
Syariat Islam Harapan Masyarakat

Saya setuju dengan penerapan syariat Islam yang membawa kesejahteraan ruhani umat. Namun untuk kesejahteraan dunia, ya harus bisnis dan menguasai teknologi. Tidak bisa begitu saja menengadahkan tangan ke Allah. Saya menganjurkan untuk meningkatkan pendidikan kita lebih tinggi. Dengan pendidikan tinggi orang akan kreatif dan menghasilkan karya atau usaha yang berdaya jual. Dari sinilah kesejahteraan dan kemakmuran akan didapat.

Jadi, bila umat Islam Indonesia ingin meraih kemakmuran, kuncinya adalah iman, ilmu, dan amal, atau aktivitas yang jelas dan menghasilkan. Jadi, jangan terlalu instan dalam memahami kehidupan ini. Nabi Muhammad saw saja berproses dalam menjalani kehidupan ini. Ia tidak menolak strategi perang dari Salman al-Farisi. Bahkan, dalam sejarah Nabi Muhammad saw meminta suaka politik ke negeri Habsyi. Kita juga harusnya begitu, jangan menolak ilmu pengetahuan atau teknologi dan skill dari luar Islam.
Zakat Tak Bisa Hilangkan Kemiskinan

Sekarang ini sudah saatnya untuk memperbaiki ekonomi masyarakat. Cari jalan atau strategi melalui ilmu pengetahuan bagaimana kehidupan ekonomi bisa maju. Memang tidak mungkin jika umat Islam mengandalkan zakat atau dana-dana umat untuk mengentaskan orang-orang miskin. Pajak 15 % di Indonesia saja sudah tak cukup untuk menaikkan tarap hidup masyarakat Indonesia. Apalagi zakat yang hanya 2,5 %, pasti sangat tidak bisa mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Sebab, warga miskin di Indonesia ini lebih banyak dari yang kayanya. Yang membuat dunia ini berdaya adalah bila yang kaya lebih banyak dari orang-orang miskin. Begitu juga dalam kasus zakat, sekarang ini lebih banyak penerima zakat dibanding pembayar zakat.

Saya punya pengalaman ketika bersilaturahmi ke Nigeria, sebuah negara muslim yang paling miskin di dunia. Negaranya berdekatan dengan Libya, yang sangat kaya raya dan makmur dari minyak. Memang, Libya memberikan bantuan untuk Nigeria, tapi tetap saja masih tak berdaya dan miskin. Sebab, dana yang dimiliki Libya tidak bisa memakmurkan seluruh warga Nigeria, apalagi bila pemimpinnya tak berdaya, maka yang terjadi malah terpuruk. Meski ada bantuan, tapi jika tak ada dukungan dan kekuatan untuk bergerak, maka tak ada perubahan yang nyata.

Namun, kalau kita melihat negara Islam di Timur Tengah seperti Iran, Kuwait, atau Lebanon, ternyata mampu membiayai masyarakat dhuafa. Ini karena ada khumus, 20 % yang ditarik pemerintah dari orang-orang kaya. Kita lihat kemarin Hizbullah di Lebanon, meski berperang melawan Israel, tapi masih bisa membangun kembali bangunan yang rusak akibat perang, dan bahkan Hizbullah mampu memberikan uang cuma-cuma kepada korban perang.

Saya pikir bila ingin terwujud masyarakat muslim yang berdaya, harusnya ada kepedulian global dari negara-negara muslim kaya dan memberikan bantuannya kepada negeri-negeri Muslim yang miskin seperti Indonesia ini.

Namun, hal itu sulit karena kita disekat dengan aspek kebangsaan. Belum lagi hingga saat ini umat Islam belum bersatu. Harusnya bersatu sehingga kepedulian global bisa terwujud. Ini penting diperhatikan.

Ada hal lainnya yang perlu diketahui. Jika melihat Amerika dan Eropa, tiap bulannya pasti ada para artis atau bintang film yang dipenjara karena enggan bayar pajak atas kekayaannya itu. Di negeri kita ini kan banyak artis-artis atau publik figur yang pendapatannya besar, harusnya dipajak sesuai dengan besarnya kekayaan yang diperolehnya. Beri sanksi fisik agar tidak mempermainkan hukum. Begitu pun zakat. Umat Islam yang kaya harus bayar zakat dan beri sanksi bila tak membayarnya. Percayalah, meski tidak ada sanksi fisik dalam urusan zakat, Anda harus yakin bahwa orang yang tak zakat itu pasti dimiskinkan oleh Allah SWT. Ini ketentuan Allah.

Sejauh ini, perkembangan lembaga-lembaga sosial atau ormas yang mengurus keberadaan kaum dhuafa sudah cukup baik dan sedang berjalan. Kami di Muhammadiyah masih terus memikirkan bagaimana orang miskin ini bisa diberdayakan. Alhamdulillah, kami masih terus mengurus masyarakat miskin dan dhuafa. Sampai sekarang ini kami terus melakukan perbaikan dan pengembangan. Mudah-mudahan bisa terus bermanfaat dan berlangsung terus.
Prof.Dr.H.DADANG KAHMAD,M.Si,

Guru Besar Sosiologi Agama dan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

(ditulis kembali oleh Ahmad Sahidin dari sebuah wawancara dengan Prof.Dr.H.Dadang Kahmad, M.Si. di Masjid Mujahidin, Jalan Sancang Bandung)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1815/Agama%20dan%20Masalah%20Kemiskinan

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s