Menyingkap Tirai Kasih Sayang Allah

Inna rahmati wasi’at kullu syai‘” (Sesungguhnya kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu).” Inilah yang Allah firmankan kepada manusia untuk mengingatkan betapa Maha Luasnya kasih sayang Allah. Sifat Maha Rahman dan Maha Rahim-Nya begitu luar biasa. Dan Allah tak pernah ingkar atas apa yang Ia janjikan.

Memang, kasih sayang Allah kepada manusia begitu tak terhingga. Ia tundukkan alam semesta ini untuk melayani kebutuhan manusia. Sebagaimana dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 22, Allah berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu…”

Bahkan dalam surah Al-Fatihah [1], ayat pertama dan ketiga Allah menautkan sifat Maha Pemurahnya dengan Maha Penyayangnya Ia. “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1]. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam [2]. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang [3].”

Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Allah telah menjadikan kasih sayang-Nya terbagi dalam seratus bagian. Dia menahan sembilan puluh sembilan bagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian ke bumi. Dari satu bagian itulah para mahluk saling mengasihi, sehingga seekor induk binatang mengangkat cakarnya dari anaknya karena takut melukainya.” (HR. Musim).

Hadis ini mengabarkkan kepada kita betapa Maha Luas dan Maha Dalamnya kasih sayang Allah. Hanya dengan satu bagian dari kasih sayang-Nya, hidup dan kehidupan ini indah dan nyaman untuk kita jalani. Tak terbayangkan bukan bagaimana jika sembilan puluh sembilan bagian dari kasih sayangnya ia perlihatkan kepada kita? Sungguh, ini harusnya menjadi renungan bagi kita untuk tak ‘pelit’ berbagi kasih sayang kepada sesama manusia maupun mahluk hidup lainnya.

Ramadan, Bulan Penuh Kasih Sayang
Lalu, bagaimana dengan puasa yang dijalani saat bulan Ramadan? Bagaimana ibadah rutinitas tiap tahun itu mampu mengantarkan kita agar memiliki jiwa berkasih sayang seperti yang Allah berikan kepada kita setiap saat?

Puasa secara harfiyah berarti menahan, yakni menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa dan mengurangi nilainya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Adapun Ramadan secara harfiyah artinya membakar dan mengasah. Maksudnya, dosa-dosa seorang mukmin akan dibakar oleh Allah. Saat Ramadan usai, ia akan kembali kepada fitrah atau terjaga kesuciannya.

Dengan kata lain, puasa merupakan upaya penyucian jiwa. Mengajarkan kepada manusia untuk mengangkat diri dari derajat hewan yang kebutuhannya hanya seputar perut dan bawah perut. Puasa merupakan salah satu cara pembebas jiwa dari jeratan kenikmatan dan keasyikan rendah duniawi.

Akan tetapi, manfaat spiritual dari puasa tak hanya itu. Selain sebagai terapi diri untuk menjadi manusia sejati (insan kamil), puasa juga bermanfaat untuk menebar dan menumbuhkan jiwa-jiwa yang mampu berempati terhadap sesama.

Rasa lapar dan dahaga ketika berpuasa, bisa menunbuhkembangkan jiwa empati. Tak sekadar simpati. Karena empati mengandung makna simpati yang mendalam. Jika simpati hanya berakhir di mulut dalam wujud belas kasihan semata, maka empati terwujud dalam tindakan untuk berbagi. Dan simpul dari empati adalah rasa kasih sayang yang terhujam kuat dalam diri. Kasih sayang tulus karena mengharap ridha Allah semata. Seseorang yang mampu menyibak tirai kasih sayang Allah di alam semesta ini, pastinya memiliki jiwa atau karakter empati yang kuat.

Adapun bentuk nyata manfaat puasa yang dapat melahirkan empati terlihat dari kepedulian aktif untuk selalu berbagi. Terutama bagi mereka yang terkukung oleh keterbatasan ekonomi (dhuafa). Jika mereka yang berpunya (kaya) merasakan betapa perih dan tak nyaman kondisi tidak makan dan minum, maka bagaimana dengan para dhuafa yang setiap harinya (tak hanya saat Ramadan) harus mengalami kondisi seperti itu?

Pertanyaan seperti itulah yang harus mengada dalam diri. Pertanyaan yang merupakan ‘pancingan’ agar rasa empati kita tak beku. Menyadari bagaimana susahnya hidup dalam keterbatasan ekonomi. Kemudian berusaha sekuat tenaga membantu mereka agar terbebas dari jerat kemiskinan. Tak hanya saat Ramadan, tapi juga setelah Ramadan. Inilah salah satu wujud dari kasih sayang kita terhadap sesama muslim. Dan semuanya itu berawal dari empati dalam diri.

Jadi, untuk apa berpuasa jika hanya menunggu berbuka? Untuk apa Ramadan jika hanya menunggu lebaran? Karena bukankah hidup tak hanya menunggu mati? “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah [2]: 21).

Mari kita jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk berbagi. Tumbuhkan empati agar gelar takwa yang Allah janjikan dapat tersemat dalam diri. Selamat menjalani Ramadan dengan hati yang dipenuhi kasih sayang tulus lillahi ta’ala. (Suhendri Cahya Purnama, Editor Portal dpu-online.com)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1708/Menyingkap%20Tirai%20Kasih%20Sayang%20Allah

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s