Sabar Tak Berbatas

….. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfal [8]: 46).

 

Orang bilang, “sabar ada batasnya”, “habis sudah kesabaranku”, “sesabar-sabarnya seseorang, akhirnya tak tahan juga”. Sebenarnya, apa atau sampai di mana batas kesabaran yang dibenarkan dalam Islam? Apakah perkataan yang demikian itu dibenarkan?

 

Mari kita coba kelompokkan tingkat kesabaran atau daya tahan mental menjadi tiga kriteria, yaitu tipe Pendaki (Climber), Bertahan (Camper), dan Penghindar (Quitter).

 

1. Pendaki, yaitu orang yag punya cita-cita tinggi, pantang menyerah, terus mencoba walau pernah atau sering mengalami kegagalan, dan selalu memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

2. Bertahan, yaitu orang yang cukup puas dengan yang dimiliki, bekerja sebatas yang ia mampu walau memiliki potensi bekeja yang lebik baik.

3. Penghindar, yaitu orang yang mudah mengalah dengan keadaan, selalu menghindar dari masalah, mudah menyerah menghadapi hambatan hidup.

 

Nah, sekarang kita tinggal pilih, termasuk dalam posisi yang manakah kita dari tiga kategori kesabaran atau kecerdasan kehandalan mental di atas. Tentu harapannya kita ada pada kelompok tipe pendaki, yang pantang menyerah. Namun, lebih utama lagi apabila dengan kesabaran, kita dapat menikmati berkah dibalik sebuah ujian yang kita hadapi.

 

Karena bisa jadi, ujian dan cobaan yang dihadapi, merupakan penggugur dosa-dosa kita. Dan Allah juga mengangkat kita ke derajat keimanan yang lebih tinggi, sesuai dengan hadis Rasulullah berikut ini:

 

Nabi Muhammad saw bersabda, “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya, sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Dikisahkan ada dua orang santri yang sedang belajar di sebuah pesantren. Berbagai ilmu telah mereka peroleh, dan tibalah saatnya sang kiai memberikan ilmu terakhir yang hebat kepada kedua santrinya. Lalu, sang kiai memerintahkan kedua santrinya itu untuk menuju tempatnya berada, yakni di atas bukit tinggi, yang harus melalui jalan setapak menuju tempat itu.

 

Sang kiai berkata, “Hai anak-anakku, tibalah saatnya kalian memperoleh ilmu terakhir dariku agar kamu dapat memanfaatkannya dalam hidupmu. Tapi, syaratnya kalian harus berjalan menuju ke tempatku yang berada di atas bukit di sana.” Maka, berangkatlah kedua santri tadi menuju tempat sang kiaiberada. Murid pertama, melihat dengan gamang tempat yang akan dikunjunginya karena jauh di atas bukit. Terbayangkan olehnya, bahwa tentu perjalanan akan sangat melelahkan untuk mencapai tempat itu. Santri yang kedua juga melihat tempat yang akan ditujunya, tapi dengan gembira diamembayangkan keindahan alam di perjalanan karena dapat melihat pemandangan dari ketinggian.

 

Dengan susah payah dan keringat mengucur di tubuh, kedua santri tadi berjalan menuju ke tempat sang kiai berada. Akhirnya, kedua santri tadi berhasil mencapai tempat sang kiai. Di sana telah menunggu sang kiai dengan senyum sejuknya dan air penawar haus bagi kedua santri. Setelah hilang dahaga, sang kyai bertanya pada kedua santrinya, “Anak-anakku, sungguh kalian sangat hebat telah berhasil menaiki bukit ini dengan susah payah, kini aku ingin mendengar apa yang kalian alami selama perjalanan kalian.”

 

Santri pertama menjawab, “Kiai, sungguh berat perjalanan tadi. Sangat melelahkan karena harus melewati bebatuan dan semak belukar serta harus tinggi mendaki.”

 

Santri kedua menjawab, “Kiai, terima kasih telah memberikan kesempatan pada saya untuk dapat menikmati pemandangan dari tempat yang tinggi ini. Untung saja sepanjang jalan kutemukan batu untuk berpijak dan semak belukar tempat berpegang, sehingga saya dapat mencapai tempat ini.”

 

Dengan tersenyum arif, sang kiai tadi memberikan penjelasan,”Anak-anakku, sesungguhnya perjalanan kalian kemari adalah sebuah ujian, dan berat ringannya sebuah perjalanan sering tergantung darimana kita memandangnya. Kalau kita sabar, tentulah kita akan mencapai tujuan kita dengan rasa bahagia.”

 

Akhirnya santri yang pertama sadar, bahwa dirinya masih ada kekurangan dalam menempuh pelajaran dari sang kiai. Yaitu ia belum bisa bersabar dalam menempuh ujian dan mengubah ujian yang berupa perjalanan tadi menjadi peluang untuk memperoleh kebahagiaan.

 

“Santriku yang pertama, kamu sudah bagus dapat mencapai tempat ini, namun tingkatkan lagi agar dalam ujian selanjutnya kamu dapat lebih bersabar lagi. Dan santriku yang kedua, pertahankan sikap sabarmu karena mempertahankan sikap sabar juga merupakan upaya yang tidak mudah,” ujar sang kiai membeikan ilmu terakhir kepada kedua santrinya sebagai bekal menempuh hidup mereka.

 

Diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh hingga seseorang bisa bersabar dan mengalahkan hawanafsunya. Yang jelas, sabar dalam Islam tidak ada batasnya. Semoga kisah di atas menjadi ibrah(pelajaran) bagi kita semua. Dan, semoga Allah memberikan karunianya kepada kita semua akan nikmatnya bersabar. AmiinWallahu a’lam bi shawab.

 

(Setiadi, BKS DPU Daarut Tauhiid edisi 319)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1834/Sabar%20Tak%20Berbatas

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s