Citra

PADA awalnya, barangkali, soal fungsi dan kepraktisan. Setiap profesi memiliki gaya dan penampilannya, sesuai dengan fungsinya. Gaya dalam berbicara, gaya dalam penampilan, gaya dalam bersikap, dan gaya dalam menjalani hidup, menyesuaikan dengan fungsinya. Dan semuanya, tumbuh berkembang menyesuaikan dengan fungsinya hingga semua gaya tersebut menjadi sesuatu yang praktis.

Bisa dikatakan, setiap profesi dan semua bidang kehidupan yang digeluti manusia, memiliki gayanya masing-masing. Para sopir angkot, yang sehari-hari menjalani hidupnya di jalanan, memiliki gayanya tersendiri. Mereka memiliki penampilan yang khas, penampilan yang menyesuaikan dengan fungsi dan pekerjaannya. Begitupula dengan gaya bicaranya. Memiliki jargon, kosa kata bahasa, yang berkembang dan paling mudah difahami diantara mereka, yang mungkin tidak dimengerti oleh orang lain yang tidak memiliki profesi yang sama dengan mereka.

Begitupula dengan profesi lainnya. Dunia militer memiliki gayanya tersendiri, mengikuti fungsinya. Mulai dari pakaiannya, gaya bicaranya yang singkat, padat dan tegas, hingga penampilannya. Semuanya mencerminkan dunia militer yang menuntut kedisiplinan dan kesiapsiagaan tempur. Para ahli teknik dan insinyur di lapangan, memiliki gaya tersendiri pula. Dari cara berpakaiannya, semuanya menunjukkan fungsi dan kepraktisannya. Memakai topi, berkemeja lengan panjang yang digulung ke siku, bercelana kasual atau denim, bersepatu kulit dengan hak tinggi.

Gaya itu berkembang mengikuti fungsi, peran, dan pekerjaan yang digeluti. Seseorang yang menekuni satu profesi, secara alamiah, akan menyesuaikan diri dalam bergaya dan berpenampilan. Tidak perlu dibuat-buat. Namun, adakalanya, dalam kehidupan sehari-hari kita melihat orang-orang yang mengikuti gaya dan penampilan tetapi ia tidak memiliki fungsi dan berperan sebagaimana gaya yang ditampilkannya. Ia bergaya semata-mata bergaya.

Kita lihat, para pemuda yang senang mengenakan atribut militer semata-mata ingin terlihat gagah, sekalipun hidupnya tidak mengenal disiplin, kesiapsiagaan dan latihan keras. Atau orang-orang yang menampilkan dirinya dengan atribut seorang profesional, dengan sarana komunikasi dan mobilitas, padahal ia tidak memiliki mobilitas, tidak produktif, dan tidak pula memiliki prestasi yang dicitrakan dari penampilannya. Kelucuan-kelucuan itu ada disekitar kita, dan kita berharap, barangkali ada pula yang mengalami proses kebalikannya. Di mulai dengan bergaya, lalu ia akan memiliki fungsi dan peran sebagaimana yang ditampilkannya.

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/2/1349/Citra

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s