Menyikapi Media dengan Adil

Pada abad 21, media telah berkembang begitu menakjubkan. Dari lingkaran perkotaan hingga pelosok desa pun, telah mengenal dan terbiasa dengan beragam jenis media. Ia (media) menjadi sebuah kekuatan yang mampu memendekkan ruang dan waktu. Hanya dalam satuan waktu, kita bisa menjelajah seantero dunia. Dunia seolah-olah menjadi kecil karena dengan media, jarak secara fisik jadi tidak berarti (menghambat) lagi.

Perkembangan media yang sangat pesat ini memang harus diakui memberikan kontribusi bagi produktifitas manusia. Utamanya manusia mampu bekerja secara efektif dan efesien. Namun tidak bisa dipungkiri keberadaan media juga membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Ini terjadi ketika media dijadikan alat komunikasi bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka menyajikan berita atau tayangan yang bombastis, bohong, kekerasan, konsumtif, cinta dunia, sensasional, tidak mendidik dan mencerdaskan. Semuanya itu menggunakan kemasan berlabel kesehatan, gaya hidup masa kini, makanan instans untuk pribadi yang produktif, ilmu pengetahuan, budaya, hingga agama. Yang akhirnya hanya untuk menyuburkan hasrat keegoan dan perilaku konsumtif semata. Media menjadi kontra produktif dengan perkembangan manusia yang telah dipercaya Allah sebagai khalifah (pemimpin) di dunia ini.

Lalu bagaimana kita sebagai muslim menyikapi hal ini? Bagaimana menempatkan perkembangan media dengan adil? Perlu diingat bahwa media adalah alat komunikasi untuk menyampaikan pesan. Karena media hanyalah alat (objek), dan manusia adalah pelaku (subjek) yang menggunakan alat tersebut, maka semuanya berpaling kepada manusia itu sendiri.

Konkretnya, bagi pemerintah haruslah menjalankan peran sebagai lembaga regulator secara optimal, yaitu melindungi dan menjaga rakyat dari berbagai efek negatif dari media. Hal itu bisa dilakukan melalui pengadaan berbagai peraturan atau undang-undang. Untuk penggiat media harus lebih arif dalam memproduksi isi medianya. Tidak hanya keuntungan yang dituju tapi kualitas manusia harus dijaga. Adapun bagi pengguna media (masyarakat) harus selektif dan pakai hati dalam memilah dan memilih media. Cari media yang menjadi alat pendekat kepada Allah SWT. Jadikan media sebagai sarana pembawa kebaikan dunia dan akhirat.

Dan yang tak kalah pentingya adalah menjaga rumah (keluarga) kita. Karena rumah memiliki kemungkinan terbesar sebagai tempat untuk mengakses media. Apa yang diberikan oleh media harus dapat disaring oleh para orang tua. Ini berguna agar anak-anaknya mampu tumbuh dan berkembang tanpa khawatir terpengaruhi oleh beragam efek negatif dari perkembangan media. Wallahu a`lam bisshawab.

(H.M.Iskandar, Direktur DPU Daarut Tauhiid)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/2/1555/Menyikapi%20Media%20dengan%20Adil

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s