RASULULLAH SAW Seorang Pemberdaya

Kemiskinan di Indonesia seolah tak kunjung berhenti. Program-program yang dibuat oleh pemerintah belum begitu signifikan menurunkan angka kemiskinan bangsa ini. Apalagi, alokasi dana yang disediakan tidak sedikit dikorupsi oleh oknum, baik ditingkat pusat sampai ditingkat desa.

Dana yang harusnya sampai kepada masyarakat miskin, sebagian tidak sampai. Kalau pun sampai, jumlahnya tidak sesuai. Akibatnya, masalah kemiskinan masih belum bisa teratasi dengan optimal.
Seperti yang kita ketahui, masalah negara ini memang sangat kompleks. Kebijakan yang dibuat, seringkali kurang berpihak pada masyarakat kecil. Kasus kebocoran dana BLBI, yaitu bantuan modal kepada bank yang bermasalah oleh BI untuk membantu ”obligor kakap” yang bermasalah sangat menyayat hati masyarakat. Mereka yang harusnya bertugas memberdayakan masyarakat, malah menyengsarakan. Andai bantuan yang jumlahnya triliunan itu dialokasikan untuk bantuan modal pemberdayaan masyarakat, boleh jadi jumlah penduduk miskin berkurang.

Karena itu, jika saja pengentasan kemiskinan ini dikerjakan oleh pemerintah semuanya, walau pun ada amanah undang-undang yang mengharuskan pemerintah menjamin kehidupan orang miskin dan anak terlantar, memang berat untuk kondisi sekarang ini. Sebenarnya, masing-masing kita secara keberagamaan pun memiliki kewajiban membantu memberdayakan fakir miskin.

Berkaitan dengan hal ini, ada kisah menarik yang pernah dilakukan Rasulullah SAW untuk memberdayakan kaum dhuafa yang diriwayatkan dari Anas bin Malik. Seorang laki-laki dari kaum Anshar mendatangi Rasulullah SAW dan meminta sesuatu. Rasulullah SAW lalu bertanya kepadanya, “Apakah kamu tidak memiliki sesuatu pun di rumahmu?” Ia menjawab, “Tentu kain yang dipakai sebagian dan sebagian yang lain kami jadikan alas, dan juga tempat gelas besar tempat kami minum air darinya.” Rasulullah SAW berkata, ”Bawalah keduanya kepadaku.” Kemudian, kedua barang itu diberikan kepada Rasulullah SAW dan dilelangnya hingga laku seharga dua dirham. Rasulullah SAW berkata lagi, “Belilah dengan dirham pertama ini makanan untuk kami berikan kepada keluargamu dan dirham lainnya belilah kampak dan bawa kepadaku.” Rasulullah SAW menguatkan ikatan ranting dengan tangannya, sambil berkata kepada laki-laki tersebut, ”Pergilah dan carilah kayu bakar, lalu juallah. Aku tidak ingin melihatmu lagi hingga lima belas hari ke depan.” Laki-laki itu pun segera bergegas mencari kayu bakar dan menjualnya. Hingga tiba saatnya, ia pun mendatangi Rasulullah SAW dengan membawa sepuluh dirham ditangannya, yang kemudian dibelikannya makanan.

Apa yang dilakukan Rasul mulia untuk memberdayakan dhuafa, sesungguhnya dapat pula dilakukan kita semua yang didititipi rezeki lebih. Misalnya, dengan mempergunakan sebagian rezeki untuk kebutuhan dasarnya dan sebagian untuk modal kerja usahanya.

Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT) sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional sudah lama menjadi lembaga yang dipercaya oleh masyarakat untuk mengelola kelebihan rezeki para dermawan yang terbatas waktu tenaga dan pikirannya untuk mewujudkan masyarakat dhuafa yang mandiri.

Alhamdulillah, sudah 1.500 orang dhuafa yang telah terbantu dalam program pemberdayaan ekonomi melalui program Micro Finance Syariah berbasis Masyarakat (Misykat). Hal ini berkat zakat, infaq, dan shadaqah para donatur. Kini, jutaan dhuafa sedang menuggu para pemberdaya baru. Jadilah Anda pangeran pemberdaya!

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s