Haji Sosial = Haji Mabrur

Kita tahu, kemiskinan dan kebodohan adalah musuh utama umat Islam. Kita pun tahu, bahwa dua hal ini (kemiskinan dan kebodohan) telah jadi masalah kronis yang tak kunjung ada solusinya.

 

Cermatilah data dari Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa kemiskinan di Indonesia

mencapai 17,9 persen. Ada pun Bank Dunia mencatat separuh penduduk Indonesia berpenghasilan di bawah dua dollar AS (sekitar Rp.18.000,-) per hari. Artinya, kemiskinan mencapai hampir separuh rakyat Indonesia, 49 persen.

 

Jika kita anggap penduduk Indonesia berjumlah sekitar 220 juta jiwa, maka sebanyak 108,78 juta orang (49 persen) termasuk miskin. Jumah fantastis sekaligus memiriskan untuk negeri sekaya Indonesia. Bangsa penduduk muslim terbesar di dunia.

 

Itu baru sekadar data kemiskinan. Belum apabila kita melihat jumlah pengangguran murni, semi pengangguran (pengangguran terselubung), dan orang yang terancam PHK (dirumahkan). Dari data kemiskinan itu akan diikuti penyakit sosial lainnya, seperti tingginya putus sekolah, wabah penyakit, perceraian, kriminalitas tinggi, dan konflik sosial. Dan yang paling riskan, kemiskinan berpilin erat dengan kebodohan!

 

Kemiskinan dan Kebodohan

Menurut ukuran resmi data kependudukan, hidup miskin berarti ukuran hidup manusia yang kurang atau tidak memiliki akses ke standar penghasilan yang memadai untuk hidup layak, layanan gizi dan kesehatan yang layak, kesempatan memasuki bidang kerja yang layak, kesempatan memperoleh layanan pendidikan yang layak, kesempatan memperoleh jaminan sosial masa depan yang layak, dan memiliki kesempatan bersaing yang sama untuk memasuki ruang-ruang publik yang terbuka bagi semua warga.

 

Hidup miskin tidak hanya berarti hidup kurang sandang, papan, dan pangan. Hidup miskin juga berarti hidup terpinggirkan, terabaikan, dan terputusnya akses kesempatan untuk mengubah masa depan yang lebih baik. Dan muaranya menimbulkan kemiskinan-kemiskinan lainnya. Seperti kemiskinan moral dan akhlak yang saat ini sungguh memprihatinkan.

 

Kemiskinan jangan dianggap sesuatu yang remeh. Atau sebuah takdir yang disikapi dengan pasrah. Tidak! Islam tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Karena kemiskinan selalu berkaitan erat dengan kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakmampuan mewujudkan tugas kekhalifahan (wakil Allah). Bukan untuk ini Islam hadir.

 

Miskin adalah bodoh. Dan bodoh adalah lemah. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. an-Nisaa [4]: 9).

 

Ketika realita ini yang ada dihadapan kita, lalu bagaimana mengubahnya? Solusi seperti apa yang harus diambil atas carut marutnya kondisi sosial bangsa ini?

 

Haji Mabrur

Haji merupakan ibadah yang amat penting. Tercantum sebagai rukun Islam kelima. Pilar-pilar dari keimanan seorang muslim. Wujud dari aktualisasi penghambaan dan ketundukan kepada Allah semata (tauhid).

 

Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang melakukan haji tidak melakukan rafats (perkataan tercela) dan tidak berbuat fasik (dzalim), ia kembali seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Jadi, ibadah haji memiliki keutamaan yang luar biasa. Mengantarkan seorang muslim untuk menjadi suci.

 

Ali Syariati dalam buku Haji (1983) menempatkan ibadah haji sebagai sarana pembebas diri. Bebas dari penghambaan kepada tuhan-tuhan palsu (thogut) menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Sejati (Allah). Haji tak hanya ritual fisik semata. Tapi, haji merupakan proses dan tahapan manusia untuk hijrah menuju Allah (makrifat kepada-Nya).

 

Selain itu, setiap orang yang melaksanakan ibadah haji bertujuan memperoleh haji mabrur. Tujuan yang memiliki alasan kuat karena Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik amal ialah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian jihad fi sabilillah, kemudian haji mabrur.”

 

Ada pun kata mabrur berasal dari bahasa Arab yang artinya mendapatkan kebaikan atau menjadi baik. Jika dilihat dari akar katanya, mabrur berasal dari kata barra, yang berarti berbuat baik atau patuh. Dari kata barra ini didapatkan kata birrun dan al-birru yang artinya kebaikan.

 

Berangkat dari arti katanya, haji mabrur berarti haji yang mendatangkan kebaikan bagi pelakunya atau pelakunya dapat memberikan kebaikan kepada orang lain. Sedangkan haji yang mardud (tertolak) adalah haji yang tidak mendatangkan kebaikan bagi pelakunya atau pelakunya tidak memberikan kebaikan kepada orang lain.

 

Haji Sosial

Haji juga merupakan fenomena sosiologis yang mampu menumbuhkan kesadaran dan kepekaan sosial. Idealnya, menurut Nasaruddin Umar (Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta), seseorang yang telah menunaikan ibadah haji mampu menjadi agen perubahan sosial menuju terciptanya kehidupan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

 

Ketika haji mabrur dimaknai sebagai mewujudkan ibadah tersebut ke ruang publik (sosial), maka seseorang yang telah berhaji hendaknya menjadi punggawa terdepan dalam mengentaskan masalah umat, yaitu kemiskinan. Kepedulian dan empati harus tercermin dalam sikap dan perbuatan orang yang telah berhaji. Ini yang dinamakan dengan haji sosial.

 

Contoh, ketika seseorang yang berhaji melanggar sebuah larangan, maka harus membayar dam (denda). Ini adalah kewajiban ritual yang harus dipenuhi. Tapi, kemanakah dan kepada siapa dam itu diserahkan? Tentu kepada mereka yang dhuafa (tidak mampu). Hal itu jadi salah satu bukti bahwa seseorang yang berhaji harus memiliki kepedulian sosial.

 

Ketika pulang dari berhaji pun, mabrur atau tidaknya seseorang yang berhaji dapat terlihat dari kebermanfaatannya kepada umat (masyarakat). Harta benda yang dimiliki, tak hanya bernilai bagi diri, tapi juga bagi sesama yang membutuhkan. Filantropi (kedermawanan) sosial jadi jubah penghias seseorang yang berhaji. Bukan gelar atau status haji yang dipampang.

 

Jadi, patut dipertanyakan apabila seseorang yang gemar berhaji tapi lingkungan sekitarnya masih dipenuhi fakir miskin. Patut pula disangsikan mabrurnya haji seseorang ketika hadirnya ia di masyarakat, tak mampu memberi sumbangsih bagi masalah umat. Yaitu kemiskinan yang terjalin erat dengan kebodohan! (Suhendri Cahya Purnama, Majalah Swadaya Edisi November ’10)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1764/Haji%20Sosial%20=%20Haji%20Mabrur

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s