Kurbannya Sel Tubuh

 

Andaikan kita seorang artis yang akan merilis album baru, dan saat ini kelebihan berat badan, apa yang harusdilakukan? Sepertinya kita akan meminta bantuan seorang‘ahli’ untuk melangsingkan tubuh secara instan.

 

Bagaimana caranya? Tidak terlalu susah kok! Cukup dengan menaikkan metabolisme tubuh secara paksa menggunakan obat-obatan sejenis amfetamin yang dibantu vitamin C dosis tinggi untuk meningkatkan perfusi jaringan dari oksigen. Ibarat mobil, amfetamin adalah bensin super dan vitamin C adalah pemacu karburator untuk meningkatkan asupan udara yang dipakai dalam proses pembakaran. Maka, boleh jadi kita akan mengalami fase hiperaktif karena laju metabolisme dasar (basal metabolic rate) meningkat pesat. Kita akan melakukan hal-hal aneh dan di luar kendali diri. Lalu akan diberi penenang agar kita tidak semakin kacau. Namun jika dosisnya keliru, kita malah akan kejang-kejang dan akhirnya irama jantung jadi tidak teratur. Saat itulah kita akan tertidur, tidurnya bisa sementara tetapi bisa juga untuk selama-lamanya!

 

Proses ini mengorbankan semua nikmat yang telah Allah SWT karuniakan, yakni nikmat sehat, nikmat hidup, nikmat bakat, dan nikmat menyayangi dan disayangi orang banyak. Sungguh betapa banyaknya nikmat yang kita korbankan untuk mendapatkan sesuatu dengan mengabaikan syariat dalam berikhtiar.

 

Apakah ini sesuai dengan konsep ibadah kurban? Tentu saja tidak. Konsep kurban adalah menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidup untuk sesuatu yang jauh lebih berharga. Apabila kita mengorbankan nikmat Allah hanya untuk kepentingan diri sendiri, kita telah terjebak dalam program‘mempertuhan’ diri sendiri. Keindahan kurban akan terbonsai dan menjadi tidak bermakna. Kurban hanya akan termaknai sebagai sebuah obsesi. Padahal hakikat kurban sesungguhnya adalah membuktikan cinta kepada Zat Maha Pencinta. Proses cinta ini tentu akan menebarkan rahmah ke segala penjuru. Apabila seseorang berkurban dengan ikhlas, sesungguhnya apa yang dikurbankan akan bermanfaat bagi lingkungannya.

 

Hakikat kurban adalah penyadaran diri akan konsep hidup. Kita menyerahkan apa yang bagi kita berharga sebagai bagian dari sebuah proses pengakuan bahwa kita adalah makhluk yang tidak memiliki apa pun. Kita semua adalah milik Allah dan tak berhak untuk mengakui sesuatu sebagai hak milik mutlak. Inilah hakikat cinta sejati. Di mana mencintai berarti pula berbagi. Di mana ingin memiliki berarti pula ingin memberi. Apabila cinta telah terdistribusi, hati kita akan hangat karena merasa saling memiliki.

 

Kurbannya Para Sel

Sejatinya, di dalam tubuh ada satu contoh proses kurban yang hakiki, yaitu kisah pengorbanan sel-sel disela-sela jari yang memungkinkan kita memiliki jari jemari tangan yang sempurna. Proses kurban ini disebut apoptosis, yaitu pengorbanan sebagian dari sel-sel embrional yang secara struktural tidak diperlukan lagi keberadaannya.

 

Semula ketika kita sedang tumbuh sebagai janin, sel-sel tersebut membantu pembentukan jaringan-jaringan tubuh agar terorganisasi secara sempurna. Tetapi dalam tahapan selanjutnya tugas sel-sel tersebut adalah mengakhiri perannya alias pensiun. Maka dengan sukarela dan ikhlas mereka mengorbankan dirinya untuk sebuah kepentingan yang jauh lebih besar dan lebih mulia. Sel-sel ini melakukan apoptosis, yaitu sebuah mekanisme pengorbanan diri. Tidak hanya untuk membantu proses pembentukan organ tubuh yang sempurna, tapi juga dalam rangka menyedekahkan potensi yang dimilikinya kepada sel-sel di sekitarnya (lingkungannya).

 

Demikianlah keindahan kurban yang dapat kita cermati di dalam tubuh. Ini pula yang menjadi salah satu mekanisme penyelamat ketika kita terserang kanker. Apabila sistem tubuh kita mampu mendeteksi kehadiran sel kanker, lingkungan sekitarnya akan mendesak agar sel kanker yang semula bertabiat buruk untuk ‘berkurban’ demi kepentingan bersama.

 

Inilah hakikat kurban sebagaimana dicontohkan Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim. Mereka dengan ikhlasnya menyerahkan apa yang menjadi hak Allah SWT sepenuhnya. Pengorbanan mereka menunjukkan betapa cinta kepada Yang Maha Kuasa jauh melampaui cinta kepada diri sendiri.

 

Alangkah indahnya filosofi kurban Nabi Ismail dan apoptosisnya sel embrional ini apabila kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita akan bersemangat untuk memberikan yang terbaik dalam setiap aktivitas serta menjadikannya multi manfaat bagi lingkungan sekitar. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya?

 

Tubuh pun akan berkolaborasi dan bersinergi secara sempurna sehingga terjadi harmoni antara hormon cinta, ikhlas, dan ketenangan. Kondisi ini pada gilirannya akan menciptakan sebuah orkestra kebijakan dan kedamaian. Dengan kebijakan dan kedamaian itu, jiwa akan menjadi tenang dan hidup menjadi lebih berarti.

 

Maka, dengan makna kurban ini, marilah kita senandungkan sebuah simfoni keselarasan, yang mana nada dasarnya adalah kalimat tauhid, Lâ illâha Illallâhu(Tauhid Nur Azhar)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1853/Kurbannya%20Sel%20Tubuh

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s