Metamorfosa, Jalan Menghidupkan Impian

n

Ada kupu-kupu yang menerjang badai

Sayapnya patah, terkulai dalam kehampaan

Riuh angin pun mencabik segala asa yang masih tersisa

Tapi ketegaran tetap ia pertunjukkan

Karena yakin, harapan dan semangat kan menuntunnya pada sebuah impian

 

Metamorfosa adalah simbol perjuangan makhluk hidup. Layaknya seekor ulat yang harus melalui tahapan menjadi kepompong, agar terlahir kupu-kupu yang elok. Ia merupakan proses dalam menjalani segala suka duka kehidupan. Fase kehidupan yang tidak selamanya menyenangkan.

 

Kehidupan manusia juga seperti itu, akan dihadapkan pada tantangan dan hambatan. Terkadang perih dan menyakitkan, menyesakkan serta menghancurleburkan segala apa yang ada. Menyisakan puing-puing kesedihan dan keputusasaan.

 

Tapi itu bukanlah alasan untuk menyerah, bahkan seyogyanya ia adalah kesempatan untuk berkembang menjadi lebih baik. Impian mesti dirajut, meskipun beribu kesulitan telah mengoyak-ngoyaknya. Harapan akan masa depan yang gilang gemilang harus senantiasa ditumbuhkan, walaupun air mata kesedihan telah menghapus cahayanya. Karena metamorfosa juga berarti simbol peralihan peradaban.

 

Hijrah Spiritual

Di sinilah masa pergantian tahun menemukan momentumnya. Siklus pergantian masa yang senantiasa berulang ini, sarat dengan momen peralihan antara perilaku yang kurang baik ke perilaku yang lebih baik. Perubahan kebiasaan yang kurang terpuji menjadi kebiasaan yang layak dibanggakan. Dan hidup yang ‘kurang beruntung’ menjadi hidup yang diliputi kebahagiaan. Bagi seorang Muslim, perubahan adalah sebuah tuntutan. Akan sia-sia apabila seseorang tidak mengalami perubahan dalam hidupnya.

 

Tahun baru mengambil istilahnya Prof. Dr. H. Afif Muhammad, M.A, Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, merupakan hijrah spiritual. Yaitu perubahan yang lebih menekankan pada kualitas yang berorientasi pada nilai kemanusiaan (akhirat), tanpa terjebak oleh nilai kebendaan (duniawi). Hijrah spiritual adalah ruh bagi seorang muslim yang mendambakan perubahan transedental (rohani) dalam hidupnya.

 

Hijrah spiritual yang berorientasi pada akhirat ini, akan mengarahkan kita pada suatu kualitas yang difirmankan Allah dalam Surah al-Hasyr (59): 18), “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Dalam sepotong kalimat-Nya yang lain, Allah berkata, “inna akramakum indallahi atqakum” (sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa). Ini semua menyiratkan bahwa takwa adalah nilai utama dihadapan Allah. Takwa berbanding lurus dengan keberhasilan seseorang dalam menjalani hijrah spiritualnya. Semakin berkualitas takwanya, maka semakin berhasil pula perubahan spiritual yang ia lakukan.

 

Bahagia Penuh Makna

Apabila kita menilik sejarah setiap peradaban, akan kita dapatkan bahwa pergantian tahun biasanya dipergunakan seseorang melakukan refleksi dan resolusi baru. Apa saja yang telah dicapainya, dan apa yang belum atau akan diraihnya. Menghidupkan kembali impian lama yang belum terwujud atau menetapkan impian baru yang hendak dicapai.

 

Adapun bagi seorang muslim, tahun baru adalah saat yang tepat baginya untuk berhitung telah sejauh mana ketakwaan mampu mendekatkan dirinya kepada sumber ketenangaan.  Pergantian tahun yang dimaknai sebagai perubahan akan kualitas takwanya, hendaknya  mengantarkannya pada satu tujuan, yaitu kebahagiaan.

 

Detik-detik pergantian tahun adalah masa baginya untuk menjadi pribadi yang memiliki kepekaan rasa, kebeningan hati, kejernihan akal pikiran, dinamis dalam bergerak, serta kepasrahan totalitas hidup kepada Yang Maha Sempurna. Sebuah proses yang dimana terangkum arti dari sebuah metamorfosa, jalan menuju kebahagiaan penuh makna.

 

Impian dan Harapan

“Tidak ada yang terjadi, kecuali pada awalnya sebuah mimpi,” ujar Carl Sanburg. Penyair ini seakan hendak mengatakan kepada kita akan digdayanya sebuah mimpi. Melalui impian, kehidupan seseorang dapat berubah menjadi lebih baik. Impian juga dapat membuat seseorang mampu bertahan dari segala kesulitan. Impian memang merupakan energi positif yang memaksa pemiliknya untuk mewujudkannya.

 

Adapun harapan adalah persenyawaan dari impian. Dimana ada impian, disitu juga bisa dipastikan akan bersemai harapan. Impian akan menghidupkan harapan, yang selanjutnya akan melahirkan tindakan. Dan tindakan akan menorehkan berbagai langkah kemajuan.

 

Melalui dua hal inilah (impian dan harapan), apabila kita melihat masa depan begitu suram, begitu berat untuk dijalani, jadikan ia sebagai obor atau tongkat untuk bertumpu. Anggaplah kesuraman itu sebagai metamorfosa bagi kita, yaitu jalan yang terjal dan berliku namun layak untuk dijalani. (Suhendri Cahya Purnama, Majalah Swadaya Edisi Januari ’09)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1773/Metamorfosa,%20Jalan%20Menghidupkan%20Impian

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s