Suami Memasak, Kenapa Tidak?

 

Sudah menjadi anggapan atau dogma tersendiri bagi masyarakat kita bahwa seorang istri harusnya memiliki peran domestik (kerumahtanggaan) lebih banyak daripada suami. Padahal saat ini, kian banyak kaum istri yang juga bekerja di luar rumah. Entah karena tuntutan membantu memenuhi kebutuhan finansial keluarga, sebagai tulang punggung keluarga, atau lebih untuk mengaktualisasikan kemampuan dirinya agar lebih manfaat bagi umat.
Dengan perannya di luar itu, ternyata seorang istri kadang tetap dibebani menyelesaikan urusan rumah tangga. Maka, pekerjaannya pun dobel. Bekerja di luar rumah, iya. Mengurusi rumah tangga, juga iya. Dan, ketika ada masalah, misalnya anak yang sakit atau rumah kurang terurus, masyarakat sekitar tak jarang berkomentar miring. Seolah masalah itu timbul karena ibu atau istri tersebut bekerja.
Nah, momen hari Ibu, bulan Desember tampaknya tepat sekali untuk mereview dan mengevaluasi tentang hal ini. Paling tidak, mulailah dari lingkungan keluarga kita dahulu. Jika istri untuk saat ini memang harus berkarir di luar rumah, suami tidak perlu segan, malu atau takut kehilangan harga dirinya ketika berniat meringankan pekerjaan domestik, seperti memasak, mencuci, mengepel, dan sebagainya. Bukankah Rasulullah saw juga membantu pekerjaan istrinya. Dalam sirah digambarkan bahwa beliau tidak segan pergi ke pasar, atau sekadar menjahit pakaiannya yang robek. Dalam salah satu hadisnya pun, Rasulullah saw yang mulia juga menegaskan bahwa laki-laki paling baik adalah laki-laki yang paling baik sikapnya kepada istrinya. Dan membantu meringankan perkerjaan rumah tangga adalah salah satu perbuatan menyenangkan hati istri.
Apalagi, kini di era modern dan serba hi-tech, begitu banyak perangkat yang dapat membantu pekerjaan rumah tangga, misalnya mesin cuci, rice cooker, atau yang lainnya yang dapat disediakan suami untuk membantu istrinya. Namun, tentu harus disesuaikan dengan kemampuan finansial keluarga. Atau menyediakan khadimat (pembantu), agar istri yang sudah lelah bekerja tidak harus terlibat langsung mengurus rumah, cukup mengawasi khadimat saja.
Selain itu, suami selaku kepala keluarga dapat mengondisikan anggota keluarganya untuk saling bekerja sama mengurus rumah. Cobalah melibatkan anak-anak untuk tugas domestik harian. Misalnya, si sulung ditugaskan mengepel setiap pagi sebelum berangkat sekolah, sedang adiknya ditugaskan mencuci piring. Orang tua, ayah dan ibu, dalam hal ini dapat urun rembug, musyawarah dengan anak-anak. Mereka pasti akan sangat senang dan dihargai jika dilibatkan orang tuanya. Namun, tentu pembagian tugas ini harus adil, sesuai dengan usia dan kemampuan sang anak. Insya Allah, jika sedari dini mereka dibiasakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ketika dewasa meraka akan mandiri dan tidak akan memandang rendah pekerjaan rumahan. Selain itu, anak-anak kita juga dapat belajar untuk saling menolong (ta’awun) antara sesama anggota keluarga. Mudah-mudahan kelak akan membuat mereka menjadi terbiasa membantu orang lain yang memerlukan.
Yang terpenting dari semua itu adalah adanya kesadaran dari suami dan anak, bahwa peran ibu di rumah, tidaklah semata mengurusi pekerjaan rumahan. Namun, lebih dari itu. Apalagi jika istri atau ibu tersebut juga bekerja di luar. Perempuan ini sudah banyak berkorban darah, air mata, tenaga untuk melahirkan dan mengasuh anak-anaknya. Apakah harus ditambah lagi mengurusi pekerjaan rumah tangga yang menyita waktu dan tenaganya? Memang, dalam Islam, harta dan rumah tangga suami menjadi tanggung jawab istri. Namun, tentu tidak dipahami saklek seperti itu. Seorang ibu atau istri tetap memerlukan bantuan dari anggota keluarga lainnya, karena kemampuannya terbatas. Kalaulah ia sudah sangat disibukkan dengan tetek-bengek urusan dapur, rumah dan halaman, kapan waktunya ia fullmencurahkan energi untuk mendidik anak-anaknya. Padahal masalah anak-anak juga tanggung jawabnya. Juga jangan sampai karena sibuk di dapur, menuntut ilmu menjadi terhalang. Apalagi jika misalnya, ia berkarya di luar adalah demi kemaslahatan umat atau sangat diperlukan masyarakat.
Maka, suami harus sangat bijak menyikapi hal ini. Tidak terpengaruh anggapan masyarakat bahwa istrilah yang harus mengerjakan semuanya. Apalagi jika istri juga bekerja, suami harus memandang hal ini dengan sangat proporsional. Tidak menuntut, namun juga tetap memberikan kepercayaan kepada istri untuk mengatur urusan rumah tangganya. Menghormati dan menghargai perannya sebagai ibu, salah satunya adalah dengan membantu meringankan tugasnya di rumah. Dan, perlu juga jika sesekali memanjakan ibu atau istri setelah seharian lelah bekerja atau mengurusi rumah. Misalnya dengan memberikan kado spesial di hari Ibu ini. Atau, ungkapan sayang anggota keluarga untuk pengorbanan beliau selama ini. Jadi, jika setiap minggu suami yang memasak, kenapa tidak? (Nurhayati)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1794/Suami%20Memasak,%20Kenapa%20Tidak?

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s