Sebuah Tafakur untuk Keluarga Kita

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru (mereka) kepada yang ma’ruf dan mencegah (mereka) dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali-Imran [3]: 110).

Dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad-Dari Radiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Agama itu adalah nasihat. “Kami bertanya: “untuk siapa? “Beliau menjawab: “untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam umat Islam, dan untuk orang-orang awam mereka.” (HR. Muslim).

Sahabat-sahabat khususnya para pembaca yang sudah berkeluarga, dalam kesempatan bahasan Swadaya edisi Juni ini, bagaimana kami perlu menyajikan bahasan khusus mengenai keluarga, karena mereka adalah cermin dari kesuksesan kita. Sukses dunia dan akhirat. Bagaimana kiranya seorang eksekutif bisa sukses menjalankan roda kerjanya, jika ia tidak piawai mengelola roda rumah tangga, misalnya.

Begitu berharganya mereka, keluarga kita, sehingga semestinya tidak pernah terputus kita memanjatkan puji dan syukur kepada Allah atas nikmat ini. Anak merupakan amanah yang agung dan tanggung jawab yang berat di hadapan Allah. Lalu adakah kita telah memelihara amanat-amanat tersebut? Pasangan hidup kita adalah karunia besar yang menjadi tanda-tanda kebesaran Allah, sudahkah kita mensyukurinya? Lebih khususnya bagaimana dalam mendidik anak-anak kita, sudahkah kita serius melakukannya?

Adakah kuncup-kuncup yang beriman, telah kita didik sehingga berakhlak dengan akhlak al-Qur’an? Adakah mereka telah kita didik untuk mengikuti sunnah Rasulullah saw? Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu..” (al-ahzab [33]: 21).

Adakah mereka telah kita didik untuk meng-Esakan Allah SWT, dan menjaga fitrah mereka dari noda-noda syirik dan dosa? Adakah mereka telah kita ajarkan rukun iman, rukun Islam, dan ihsan, sehingga mereka menjadi teladan dan contoh hidup untuk seorang muslim dan muslimah? Adakah mereka telah kita asuh dengan adab dan sopan santun Islam, seperti berbakti kepada orang tua, silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, menghormati tamu, berbuat baik pada fakir miskin, jujur, amanah, adil, mempunyai rasa malu, menyeru (manusia) kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran, memenuhi janji?

Adakah mereka telah kita cegah dari akhlak yang tidak baik, seperti: berbuat aniaya (zhalim) kepada orang lain, sombong, ghibah, mengadu domba, bohong, hasud, dengki, menipu, curang dan khianat? Adakah kita telah didik mereka sejak kecil untuk mempunyai rasa malu, menutup badan dan terbiasa memakai hijab syar’i, dan menjauhkan diri dari pergaulan bebas? Adakah kita sebagai orangtua telah menjadi contoh yang baik dalam hal ini? Adakah mereka telah kita didik untuk bertanggung jawab sejak kecil? Adakah?.. Adakah?.. Adakah?..

Hendaknya kita menjawab tafakur-tafakur tersebut dengan jujur, karena tanggung jawab dan amanat ini sangat besar dan berat. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”(QS. at-Tahrim [66]: 6).

Perlu disampaikan pula beberapa hal yang bisa jadi ini merupakan berita penting yang kadang-kadang, kedua orangtua meninggalkannya atau tidak tahu kepentingannya, yaitu upaya menikahkan putera-puteri pada umur yang cukup. Dalam hadis dari Nabi saw, bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kamu telah mempunyai kemampuan maka nikahlah, karena hal itu lebih membantu menahan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan barang siapa belum mampu untuk menikah, maka hendaknya berpuasa, karena itu merupakan obat baginya.” (HR. Muttafaq Alaih).

Ucapan selamat dan penghargaan layak disampaikan kepada perempuan yang telah memenuhi amanat dan melaksanakan tangung jawab memimpin rumah dan anak-anak suaminya. Mereka tidak bergantung pada adanya seorang khadimat (pembantu) apabila memilikinya. Mereka sendirilah yang mengatur rumah suaminya. Semoga keberkahan Allah menaungi hidupnya.

Ucapan selamat dan penghargaan, layak disampaikan kepada para isteri yang beriman dan sabar atas ujian kesulitan dalam mendidik anak-anaknya. Allah SWT berfirman: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi roji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kita akan kembali).” (QS. al-Baqarah [2]: 155-156).

Semoga tafakur ini menjadi bahan bakar amaliyah kita sebagai orangtua, karena nasihat yang paling berharga adalah suri teladan yang dilakukan dalam keseharian. Anak-anak kita dan orang lain bisa melihat dan menilai apa yang kita perbuat. Mulai dari diri sendiri adalah sebaik-baik metode nasihat.

(H.Asep Hikmat, Direktur DPU Daarut Tauhiid)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/2/1648/Sebuah%20Tafakur%20untuk%20Keluarga%20Kita

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s