Membuka Harapan Mereka yang Putus Sekolah

Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sbagai prasasti, trimakasihku ntuk pengabdianmu.
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa

(Sartono)

Masih ingat dengan lirik Hymne Guru di atas? Lirik tersebut sering disenandungkan pada saat akhir upacara hari Senin atau saat memperingati hari guru. Saat lirik lagu tersebut disenandungkan, kita akan teringat guru-guru kita yang telah mengajari kita banyak hal hingga kemudian dikenal lah istilah “Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”.

Tampaknya, gelar “Pahlawan tanpa tanda jasa” sangat tepat disematkan kepada muslimah yang satu ini. Cucu Sumiati (32), ibu dua anak sekaligus guru relawan dan pendiri SMP Terbuka Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Bersama suaminya, Gunawan (37), Cucu tak hanya membina rumah tangga tetapi juga membina sebuah sekolah bagi anak-anak putus sekolah.

Modal Nekad
Menjadi salah seorang anak yang kurang mampu tidak membuat Cucu melabuhkan cita-citanya di bangku SD. Dulu, walaupun keadaan ekonomi keluarga Cucu sangatlah pas-pasan, Cucu tidak mau berhenti sekolah. Meski tak punya ongkos atau bekal, Cucu tetap nekad ke sekolah dan akhirnya kandas di bangku SMA. Walaupun demikian, lihatlah semangatnya, bukan pendidikannya, jika dibandingkan dengan para sarjana pendidikan, semangat mendidiknya jauh lebih tinggi.

Cucu tersadar, ketidakmampuannya melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi tidak harus dirasakan oleh anak-anak lain. Cucu tidak ingin masalah ekonomi mematikan semangat belajar dan bersekolah anak-anak di sekitarnya. Dari sana lah Cucu dan Gunawan tergerak untuk mengajak dan menyekolahkan anak-anak putus sekolah untuk kembali belajar tanpa biaya sepeser pun.

“Jangan seperti saya, saya dulu orang tidak mampu tapi tetap bisa sekolah. Dari situ saya survei kecil-kecilan, datang door to door, minta data ke pak RT,  anak mana sih yang gak sekolah, siapa saja namanya gitu. Saya datangi  satu-satu. Ternyata 99% anak tidak melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi. Tapi semangat sekolah mereka memang tinggi. Saya jadi tambah semangat, termotivasi  banget,” Ujar Cucu saat ditemui di kediamannya di Bogor.
Cucu dan suaminya mengajukan pengadaan kelas jauh kepada Kepala Sekolah SMPN 1 Cijeruk. Alhamdulillah, kegigihannya tersebut mendapatkan respon positif dari pihak sekolah. Cucu dan suaminya diperbolehkan mengadakan kelas jauh yang menginduk kepada SMPN 1 Cijeruk dan diperbolehkan menempati kelas di SD Langensari. Selanjutnya, sekolah yang dibina Cucu dan suaminya itu disebut sebagai SMP Terbuka.

Digaji Rp. 9000/hari
Awal merintis sekolah bukan berarti tanpa ujian. Kurangnya dukungan dari lingkungan dan tokoh masyarakat tak membuat Cucu goyah. Justru Cucu tambah semangat mengajak anak-anak bersekolah. Selain itu, cibiran, ejekan, celaan, teror, dan respon negatif dari beberapa pihak terus bermunculan. Misalnya ejekan tentang latar belakang pendidikan, disebut tidak bermutu, tidak elit, dan lain-lain. Namun, Cucu dan Gunawa semakin terpacu dan tidak akan menyerah.

“Ngapain saya menyerah gitu aja, toh saya yang  kerja kok, saya yang susah-susah nyari anak kok, saya yang ngajar sendiri, peduli amat dengan orang-orang yang tidak peduli dengan dunia pendidikan,” Ujar Cucu penuh semangat.

Awal dibukanya sekolah terbuka sebagian besar siswa tidak memakai seragam. Melihat kenyataan demikian, Cucu kembali tergerak untuk mencari donatur di mana-mana agar kebutuhan seragam, sepatu, dan buku pelajaran siswanya terpenuhi. Sekarang, seluruh siswa yang berjumlah 67 orang akhirnya dapat berseragam layaknya siswa SMP.

Jika melihat gaji, Cucu dan suaminya mungkin tidak akan pernah melakukan kerja keras seperti ini. Bayangkan, walau gaji Cucu dan suaminya hanya Rp. 9000/hari, Cucu tidak gentar. Cucu meyakini bahwa Allah akan mempermudah jalannya dan mencukupi segala kebutuhannya.

Praktiknya, Cucu tak hanya memberikan siswa-siswanya teori. Menurut Cucu, yang terpenting dalam mendidik siswa-siswanya adalah pembentukkan karakter. “Jadi, guru itu tidak menyampaikan materi belajar saja, menurut saya. Materi-materi untuk pembentukan karakter, akhlaknya juga harus baik itu sangat penting. Jadi, lebih banyak pembentukan karakter, membangun mental dan saya tekankan siswa harus punya cita-cita. Cita-cita harus tinggi meskipun keadaannya terbatas. Menurut saya  materi pelajaran nomor 2, yang nomor 1 karakter,” tambah Cucu.

Dalam hidupnya, Cucu memiliki prinsip yang tidak boleh dilanggar. Prinsip tersebut Cucu pakai untuk mendidik siswa-siswanya. “Orang maju, sukses tidaknya itu tergantung dari kejujuran. Kalau kita sudah menanamkan kejujuran dari awal, insya Allah hidup kita dimudahkan,” tuturnya. (Astri Ramayanti)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/9/1870/membuka-harapan-mereka-yang-putus-sekolah

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s