Ada Impian di AIS

Namanya Nuraini, biasa dipanggil Aini. Usianya terbilang muda, 18 tahun. Sepintas tak ada yang istimewa dalam dirinya. Kesehariannya pun mungkin tak jauh dengan dengan anak lainnya. Belajar, bermain, sekolah, dan sesekali membantu kedua orang tua. Sekolahnya juga tidak di tempat yang memiliki fasilitas serba ada, apalagi mahal.

Sejak kelas 1 SMA, Aini bersekolah di Adzkia Islamic School (AIS) Dompet Peduli Ummat (DPU) Daarut Tauhiid. Sebuah sekolah yang berdiri di atas tanah wakaf sejak tahun 2008. Sekolahnya gratis. Tanpa dipungut biaya apa pun. Tapi, itu bukan berarti pendidikan yang diberikan bersifat ala kadarnya.

Aini dan dua orang teman lainnnya, Roby dan Onil membuktikan bahwa kualitas yang dimiliki siswa AIS bukan ala kadarnya. Siswa AIS mampu bersaing dengan sekolah-sekolah bergengsi lainnya.

Sabtu (13/6), mereka bertiga berhasil masuk final dalam Olimpiade Ekonomi Syariah yang dilaksanakan di Balai Walikota Depok. Acara yang diselenggarakan oleh STEI SEBI itu, tak begitu lama mereka persiapkan, hanya tiga minggu. Tapi Alhamdulillah, hasil memuaskan dapat mereka raih.

Saat ini Aini dan Roby sedang menunggu hasil SNMPTN. Aini memilih UPI Bandung dan UIN Jakarta. Adapun Roby memilih UNPAD dan UIN Jakarta. Mereka berharap dapat melanjutkan ke perguruan tinggi yang menjadi impiannya itu.

Walau tidak lama di AIS, rupanya AIS begitu berkesan di hati mereka. “Saya ingin sekali menjadi guru. Kalau cita-cita saya tercapai menjadi guru, saya ingin ngajar di AIS,” ujar Aini.

“Terima kasih kepada donatur yang telah membuat saya dan teman-teman bisa sekolah. Tanpa mereka, kami mungkin tidak bisa bersekolah seperti saat ini. Semoga amal ibadah para donatur diterima oleh Allah SWT,” lanjutnya.

Belajar di perguruan tinggi memang merupakan impian terbesar mereka. Hanya saja, halangan besar mungkin menanti yaitu biaya. Menyikapi hal tersebut, AIS memfasilitasi para alumninya yang ingin meneruskan sekolah hingga ke perguruan tinggi melalui program Beasiswa Kader.

“Untuk saat ini kami membantu 50% per semester, sisanya mereka mencari sendiri. Mereka bisa kuliah sambil bekerja, baik itu dengan mengajar atau aktifitas lain yang menopang kemandirian mereka. Syukur-syukur bisa membiayai sampai lulus,” tutur Ahmad Najib, Kepala Sekolah SMA  AIS.

Sama halnya dengan sekolah lain, saat ini AIS pun sedang menjalankan agenda tahunannya, penerimaan siswa baru. Berbeda dengan sekolah lain, AIS memilih siswa dari keluarga dhuafa, komitmen orang tua dan siswanya. Walau ruang kelas dan sarana masih terbatas, AIS tetap akan bangkit. Berjuang terus agar pendidikan dapat dirasakan masyarakat paling dhuafa sekali pun. Tentunya dengan ijin Allah dan bantuan para donatur. (Astri Rahmayanti, Majalah Swadaya Edisi Juli ’11)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/9/1725/Ada%20Impian%20di%20AIS

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s