Pepeng: Kacamata Iman, bukan Kacamata Akal

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

 

Tiga baris terakhir dari sajak ‘Makna Sebuah Titipan’-nya WS Rendra, seakan berjalan linier dengan kesan yang dirasa ketika Riyanti dan Suhendri Cahya Purnama dari Majalah Swadaya mendapat kesempatan berbincang dengan salah seorang tokoh inspirator Indonesia. Ferrasta Soebardi atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan ‘Pepeng’.

 

Kesan bagaimana ketegaran seorang manusia dalam memaknai takdir hidup yang Allah berikan padanya. Sesosok pribadi yang memiliki karakter pantang menyerah, anti mengeluh, dan selalu berupaya memandang setiap kejadian dalam hidup dalam kacamata iman.

 

Pandangan hidup ini terbukti berbuah manis. Pepeng walau divonis mengalami penyakit langka yaitu multiple sclerosis yang membuat tubuhnya dari pusar ke bawah lumpuh total, tak menjadikan hidupnya kelabu. Bermuram durja sembari meratapi hidup dan mengais simpati dari orang-orang di sekitarnya. Tidak. Gambaran tersebut teramat jauh dari pembawa acara kuis ‘Jari-Jari’. Sebentuk program televisi di RCTI yang sangat populer pada tahun 1992 dan melambungkan namanya.

 

Sebaliknya, penyakit yang dialami sejak 2005 itu mengajari Pepeng banyak hal. Bahwa takdir apa pun bentuknya, harus diterima sebagai bentuk kasih sayang Allah. Dan terbukti, penyakit yang dialami tak jadi penghalang Pepeng dalam berkiprah dan berkarya bagi masyarakat. Bukan hanya sukses menyelesaikan Tugas Akhir di Pasca Sarjana Psikologi Universitas Indonesia pada Agustus 2006, Pepeng hingga kini masih aktif sebagai presenter televisi, penulis, dan teman bertukar pikiran yang mencerahkan bagi siapa pun. Dan semua itu ia lakukan dengan berbaring di tempat tidur.

 

Kacamata Iman vs Kacamata Akal

Selasa (12/6) sore menjelang magrib, di dalam kamar pribadi yang dikelilingi deretan buku tersimpan rapi di rak, dan Veve (laptop merek Sony Vaio) dengan layar masih menyala, Pepeng memulai perbincangan mengenai pandangan hidup yang ia genggam teguh. Yakni bagaimana memaknai hidup dari kacamata iman, bukan kacamata akal.

 

Pandangan sekaligus keyakinan yang jadi kunci ketegaran Pepeng dalam menerima dan menjalani kondisinya saat ini dengan ikhlas. Kondisi yang bagi sebagian orang akan menjungkalkan mereka ke dalam lorong depresi tak berujung.

 

“Kacamata akal itu ukurannya tendensius, sedangkan kacamata iman ukurannya Allah,” ujarnya mengawali perbincangan.

 

“Maksud saya begini, kalau untuk ukurannya Allah-kan keikhlasan. Adapun akal menjadikan setiap manusia punya ukurannya sendiri. Nah, kalau kita selama ini masih memakai kacamata akal, tapi bukan kacamata iman, maka akan muncul benturan antara mencintai dan menerima,” sambungnya.

 

“Saya akan dengan mudah mengatakan saya mencintai anak saya, tetapi apakah saya menerima setiap perilaku anak saya? Nggak, belum tentu. Hal ini pun berlaku kepada Allah saat kita mengatakan, saya mencintai-Mu ya Allah dengan sepenuh hati.”

 

“Ketika kita mencintai seseorang apalagi dengan Allah, maka kita harus mengikuti semua apa yang Ia inginkan. Kita bilang cinta, tapi begitu dikasih sedikit saja kesulitan, apakah kita menerima? Belum tentu. Itu yang menjadi persoalan. Mencintai seharusnya menerima apa pun yang menjadi ketetapan-Nya. Menerima apa pun yang ada di hadapan kita. Cinta dan penerimaan harus sejalan,” jelasnya.

 

Kedermawanan Menurut Ukuran Allah

Berdasarkan pandangan mengenai urgensinya kacamata iman, Pepeng juga mengomentari fenomena kedermawanan di negeri ini. Sebentuk perilaku sosial yang menurutnya kini sering disalahtafsirkan dan disalahgunakan.

 

“Orang sekarang ini ukurannya suka salah, yaitu antara karakter dengan akhlak itu selalu dipertentangkan. Karakter itu ukurannya manusia, sedangkan berakhlak ukurannya adalah ukuran Allah yang diturunkan melalui Rasul-Nya. Salah satu orang yang berakhlak menurut kita adalah orang yang saleh. Seandainya ada orang yang berkarakter tetapi dia adalah koruptor, jelas dia tidak berakhlak apalagi saleh,” ujar Pepeng.

 

“Menurut saya, kedermawanan sosial ukurannya jelas yaitu ukuran yang berhubungan dengan masalah yang diperintahkan oleh Allah. Karenanya, saya merasa nggak sreg kalau misalnya ada orang-orang yang mengatakan, ‘Dia baik kok, kalau ada pengajian dia selalu datang bawa ini itu.’ Padahal, uangnya berasal dari jalan yang tidak diridhai Allah.”

 

“Jangan-jangan sekarang ada kesalahan berkonsep dalam Islam. Salah satunya ketika seseorang mengambil hak yang bukan miliknya, misalnya korupsi, lalu ia dermakan. Setiap hari Jumat dia ke masjid, dan dia berpikir sudah selesai urusannya sama Allah, ini keliru!”

 

“Kedermawanan sosial menurut saya ukurannya harus jelas, ukuran ilahiyah. Orang dermawan yang diukur keikhlasannya. Seberapa ikhlas seseorang itu menjadi seorang dermawan pada lingkungannya. Dan seberapa saleh orang itu dalam konteks ilahiyah. Itu yang paling penting. Jadi harus hablum minallah dan hablum minannas,” ujarnya.

 

 

Biodata

Nama          : Ferrasta Soebardi (Pepeng)

Lahir           : 23 September 1954, Sumenep, Madura

Pekerjaan    : Presenter, Aktor

Pasangan     : Utami Mariam Siti Aisyah

Anak           : Mamaz – Mio – Lalo – Izra

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/10/1841/Pepeng:%20Kacamata%20Iman,%20bukan%20Kacamata%20Akal

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s