Kala Perencanaan Keuangan Keluarga Kita Minus

 

      Fathya: “Ayi Salma, terima kasih atas nasihatnya beberapa bulan yang lalu. Sejak saat itu, saya sudah mulai membuat perencanaan keuangan keluarga. Namun bulan lalu ada masalah. Pas saya buat, kok rencana pengeluarannya lebih banyak dari pendapatan kami. Gimana atuh? Jadi malas melanjutkannya.”
Salma: “Alhamdulillah kalau begitu. Berkenaan dengan perencanaan yang defisit tersebut, yakni rencana pengeluaran kita lebih banyak dibandingkan dengan pendapatan kita, hal itu menunjukkan manfaat dari sebuah perencanaan keuangan keluarga.”


Fathya: 
“Lho kok bisa begitu?”

Salma: “Artinya, untung kita mengetahui adanya defisit tersebut pada saat perencanaan. Kan gawat, kalau defisit tersebut ada dalam kenyataan. Kalau kita tidak melakukan perencanaan, bisa jadi kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kondisi keuangan tengah defisit, sehingga melakukan pengeluaran-pengeluaran untuk hal-hal yang tidak prioritas. Akibatnya parahlah keuangan kita. Namun dengan adanya perencanaan, dan ternyata menunjukkan defisit, maka hal itu menjadi peringatan dini. Kita dapat bersegera mengambil tindakan untuk mencoba mengatasinya. Namun lain halnya ketika kita tidak membuat perencanaan. Bisa jadi kita menyadarinya setelah sekian lama tanpa kita melakukan suatu upaya sedikit pun untuk mencoba mengatasinya.”
Fathya: “Bagaimana cara mengatasinya?”

Salma: “Kita amati sekali lagi perencanaan keuangan keluarga kita. Kita lihat, apakah ada pos-pos anggaran yang tidak jadi kita rencanakan. Atau kita teliti lagi, apakah ada pengeluaran yang bisa kita tunda. Untuk hal ini, karena penundaan sifatnya, tentu pada masa yang akan datang perlu ada sumber pendapatan untuk menutupnya, sehingga bisa jadi kita terpacu untuk berfikir keras meningkatkan pendapatan kita misalnya.”

Fathya : “Wah, terima kasih banyak. Kalau begitu, teteh faham bahwa manakala kita membuat perencanaan keuangan, dan pada rencana yang kita buat ternyata rencana pengeluaran lebih banyak dari rencana pendapatan kita, maka kita jangan kemudian menjadi malas untuk melanjutkan perencanaan keuangan. Tetapi harus melakukan perbaikan rencana keuangan tersebut.”

Salma: “Ya. Dan selanjutnya, yang terpenting kita harus konsisten dengan rencana tersebut. Yakni melaksanakan prioritas pengeluaran yang kita rencanakan sebelumnya.”
Fathya: “Siiip….lah.” 

(Iwan Rudi SaktiawanTrainer Menejemen Keuangan Keluarga)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/7/1730/Kala%20Perencanaan%20Keuangan%20Keluarga%20Kita%20Minus

Iklan
By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s