Ketika Dikejar Utang (1)

Hampir tiga hari ini, saudara sepupu Hemri yakni Rustandi menginap di rumahnya. Tentang menginapnya sih tidak masalah, namun Rustandi kelihatan sedang stress dan ketika HP-nya berdering, ia tampak panik. Tanpa bermaksud mencampuri urusan pribadi dan niat membantu, Hemri mengajak dialog Rustandi.

Hemri      :  “Punten kang. Bukannya mau mencampuri urusan orang. Jika kang Rustandi mau berbagi cerita, mungkin ada yang bisa saya bantu?”

Rustandi   :  Begini kang Hemri, saya sedang dililit utang. Bukan oleh satu orang saja, bahkan hingga tiga orang. Terus terang saya ke sini untuk menghindar dari penagih-penagih yang sering mendatangi rumah saya itu. Padahal utang tersebut untuk keperluan produktif. Alhamdulillah saya bisa menghindari berutang untuk keperluan konsumtif sesuai saran kang Hemri. Utang-utang itu untuk menambah modal usaha saya. Namun, kini usaha saya sedang menurun. Jika dari kang Hemri ada saran, insya Allah saya terima dengan senang hati.”

Hemri      : “Menghindari masalah, yakni lari dari pemberi pinjaman bukan solusi. Kita harus mau menemui mereka dan menjelaskan duduk permasalahannya serta mencoba membuat mereka mengerti. Jika mereka tetap tidak juga mau mengerti, marah-marah, dan sebagainya, bagaimana pun juga harus kita terima dengan lapang dada. Karena, kita memang bersalah yakni tidak bisa menepati janji. Memang sih sebaiknya sebelum jatuh tempo pembayaran dan ketika sudah ada prediksi tidak bisa membayar utang, kita harus proaktif melakukan pendekatan ke pemberi pinjaman sehingga sebelum jatuh tempo mereka sudah paham kondisi kita.”

Rustandi   : “Selain pendekatan itu, apa lagi kang solusinya? Apakah mencari pinjaman baru untuk menutup utang-utang tersebut?”

Hemri      : “Menutup dengan pinjaman baru, tidak menyelesaikan masalah. Jika ada pinjaman yang ringan, misalnya dari saudara atau yang lainnya yang bisa dibayar kapan saja ketika kita mampu, mungkin itu bisa membantu. Solusi lain adalah menjual aset. Maaf, kang Rustandi kan memiliki mesin cuci yang canggih dan saat ini tidak dipakai karena sudah ada tukang cuci. Nah, kenapa tidak dijual saja?”

Rustandi   : “Saya merasa sayang untuk menjual barang tersebut kang.”

Hemri      : “Memenuhi kewajiban kepada orang lain dan menjaga hubungan baik dengan pemberi pinjaman lebih penting dibandingkan rasa sayang kita pada suatu barang.  Pemberi pinjaman sudah melakukan kebaikan dengan memberikan kita pinjaman, tentu harus kita hargai. Meskipun tidak bisa melunasi semuanya, bayarlah semampu kita untuk menunjukkan niat baik. Selain itu, dengan menghindari penagih utang, waktu kita menjadi tidak produktif. Padahal kita harus produktif untuk dapat membayar utang-utang tersebut.”

Rustandi   : “Terima kasih kang atas sarannya. Saya merasa lebih lega sekarang.”

(Iwan Rudi SaktiawanTrainer Menejemen Keuangan Keluarga)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/7/1774/Ketika%20Dikejar%20Utang%20(1)

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s