Ketika Dikejar Utang (2)

 

Rustandi: “Kang Hemri, nasihat akang sebelumnya yang meminta pengertian pemberi utang dan menjual aset yang kurang penting untuk menutupi cicilan utang menurut saya adalah solusi sementara. Belum sampai kepada inti penyelesaian tuntas masalahnya.”

Hemri: “Benar sekali. Namun, solusi sementara atau jangka pendek itu penting agar setelahnya kita dapat fokus kepada penyelesaian inti permasalahannya. Secara umum solusi jangka panjang adalah meningkatnya kemampuan bayar kita baik dengan penghematan maupun dengan meningkatnya pendapatan kita. Dengan kondisi seperti ini, kita harus harus jauh lebih berhemat dibandingkan dengan sebelumnya. Jangan sampai utang kita banyak, namun gaya hidup masih boros. Pengelolaan keuangan harus lebih ketat lagi dibanding sebelumnya.”

Rustandi: “Benar kang, kami harus lebih hemat lagi. Mengubah gaya hidup dan mengubah kebiasaan, memang tidak mudah. Tapi, insya Allah dengan tekad yang kuat serta ikhtiar maksimal, saya yakin kami sekeluarga bisa lebih berhemat dibanding sebelumnya.”

Hemri: “Alhamdulillah kang Rustandi. Memang harus ada tekad yang kuat serta ikhtiar maksimal. Selain itu kita jangan terbawa emosi atau menjadi stres sehingga produktivitas menurun. Kondisi usaha yang sedang menurun justru membutuhkan produktivitas kita yang lebih dibandingkan sebelumnya. Selain itu, kondisi ini jangan mengurangi rasa percaya diri kita sehingga kurang bersemangat dalam berusaha. Tidak jarang, karena sering didatangi oleh penagih utang, tumbuh perasaan malu kepada tetangga, teman-teman, relasi dan sebagainya. Memang, rasa malu itu hal yang wajar. Namun, jangan sampai mengurangi rasa percaya diri dan semangat kerja.”

Rustandi: “Benar juga. Dengan kondisi saat ini, saya merasa kurang bersemangat untuk berusaha. Terima kasih kang Hemri, insya Allah saya akan lebih memacu semangat. Kemudian tentang upaya meningkatkan pendapatan, bagaimana caranya kang?”

Hemri: “Tentu saja, usaha kang Rustandi perlu diperbaiki. Bahkan jika hasil evaluasi ternyata kurang layak untuk dilanjutkan, mungkin perlu dipertimbangkan untuk merevisi usahanya, atau alih usaha. Intinya perlu diperbaiki usahanya. Namun untuk detilnya, saya bukan ahlinya. Membayar utang memang kewajiban, namun dengan adanya pengertian dari pemberi utang, kita minta padanya keleluasaan agar ada uang untuk menjalankan usaha. Sehingga secara jangka panjang usaha masih terus berjalan bahkan terus berkembang. Secara manajemen keuangan, perlu disisihkan untuk modal usaha dan peningkatan keahlian, misalnya membeli buku atau biaya mengikuti training.”

(Iwan Rudi Saktiawan, Trainer Menejemen Keuangan Keluarga)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/7/1782/Ketika%20Dikejar%20Utang%20(2)

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s