Jasa Ibu yang Terlupakan

Dikisahkan ketika Rasulullah sedang berthawaf, beliau bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya epada anak muda itu, ‘’Kenapa pundakmu itu?’’ Jawab anak muda itu, ‘’Ya Rasulullah, saya dari Yaman. Saya mempunyai seorang Ibu yang sudah uzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika shalat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya.’’

Kemudian anak muda itu bertanya, ‘’Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?’’ Rasulullah saw sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk anak muda itu beliau bersabda, ‘’Sungguh Allah ridha kepadamu, kamu anak yang saleh, anak yang berbakti. Tapi anakku, ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu.’’

Kisah tersebut membawa pesan penting bahwa jasa, kasih sayang dan cinta seorang ibu kepada anaknya tidak akan mungkin terbalas dan tidak bisa ternilai dengan apa pun. Perjuangan seorang Ibu untuk anaknya, sangatlah luar biasa. Keikhlasan dan ketelatenan dalam merawat anaknya sejak dari kandungan hingga dewasa dan bahkan hingga berkeluarga, senantiasa diberikan. Seorang Ibu rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk kehidupan sang anak. Bahkan, untaian doanya tidak pernah terputus untuk seorang anak. Mereka selalu berharap dan memohon kepada Allah agar anaknya menjadi anak-anak yang saleh dan salehah.

Hanya sayang, tidak banyak saat ini kajian-kajian keagamaan yang membahas khusus berkaitan dengan bakti kepada Ibu (orang tua). Tidaklah salah memanfaatkan hari Ibu, tanggal 22 Desember untuk mengingat kembali jasa-jasa Ibu yang ‘terlupakan’. Walau sesungguhnya momen berbakti harus setiap saat dijalankan. Saat momen mudik lalu, nuansanya lebih pada bermaafan secara massal.

Maka momentum hari Ibu dan pergantian tahun Hijriah, maupun masehi, adalah saat yang tepat untuk kita tafakuri: hingga sejauh mana bakti kita kepada orang tua, terlebih kepada Ibu. Sudahkah kita layak disebut sebagai anak yang berbakti, sementara sikap dan perhatian kita kepada keduanya masih belum menunjukkan tanda-tanda seorang anak yang berbakti? Sudahkah doa yang kita sampaikan untuk ampuanan dan keberkahan hidup mereka menjadi doa utama kita? Sudahkah waktu dan harta kita juga dinikmati oleh mereka? mungkin saat ini kita pun sudah menjadi orang tua, namun kita tetaplah seorang anak hingga kapan pun. 

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/2/1525/Jasa%20Ibu%20yang%20Terlupakan

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s