Ketika Rasa Malu Telah Sirna

Imam Shadiq as pernah berpesan, “Barang siapa tidak memiliki rasa malu, maka ia tidak memiliki iman.”

 

Salah satu problem terbesar masyarakat kita sekarang ini adalah usaha sebagian orang untuk menyebar-luaskan rasa tidak malu.

 

Dalam sebuah klasifikasi global, rasa malu dapat digolongkan dalam beberapa kelompok:

 

– Malu kepada manusia.

– Malu kepada malaikat.

– Malu kepada para wali Allah.

– Malu kepada Allah.

 

Di antara klasifikasi rasa malu ini, manakah malu yang paling bernilai? Manakah malu yang paling indah? Manakah malu yang paling aplikatif?

 

Malu Paling Bernilai, Malu kepada Allah

Untuk menjawab pertanyaan pertama, dalam banyak hadis disebutkan bahwa rasa malu yang paling bernilai adalah malu kepada Allah. Yaitu, seseorang merasa malu untuk mengerjakan sebuah perbuatan buruk lantaran ia tahu bahwa ada seorang menyaksikan, tapi ia sendiri tidak terlihat oleh mata kita.

 

Rasa malu seperti ini memiliki banyak efek dan fungsi. Salah satunya adalah rasa malu ini dapat menghapus seluruh dosa yang pernah dilakukan oleh seseorang di masa lalu. Imam Ali as pernah berkat, “Malu kepada Allah dapat menghapus kebanyakan dosa.”

 

Tapi, menghapus juga bisa berarti bahwa seseorang di masa yang akan datang bertekad bulat untuk tidak mengotori tangannya dengan dosa apapun.

 

Malu Paling Indah, Malu kepada Diri Sendiri

Jika seseorang merasa malu terhadap saksi tak terlihat yang ada dalam dirinya, ini berarti bahwa substansi insaninya masih hidup. Menurut pernyataan banyak hadis, jenis malu ini disebut sebagai rasa malu yang paling indah. Dalam sebuah hadis lain juga disebutkan, salah satu pertanda kesempurnaan sisi insani seseorang adalah ia merasa malu terhadap dirinya sendiri.

 

Malu Paling Aplikatif, Malu kepada Makhluk

Jenis rasa malu ini disebut sebagai rasa malu yang paling aplikatif di kancah kehidupan bersosial. Kita merasa malu terhadap sesama kita pada saat kita ingin melakukan sebuah maksiat.

 

Rasa malu ini adalah pondasi bagi seluruh rasa malu yang lain. Jika rasa malu ini sudah terwujud, jenis-jenis rasa malu yang lain akan terwujud pula secara perlahan-lahan. Dalam sebuah hadis disebutkan, barang siapa tidak merasa merasa malu di hadapan orang lain, niscaya ia tidak akan merasa malu di hadapan Allah.

 

Dalam hadis lain juga ditegaskan, keburukan paling buruk adalah bila seseorang sudah tidak merasa malu terhadap orang lain.

 

Satu poin tidak boleh kita lalaikan bersama. Musuh kita memahami dengan baik bahwa cara terbaik untuk memukul agama Islam adalah penyebarluasan rasa tidak malu. Jika rasa malu sudah musnah, maka sebuah masyarakat akan menjadi masyarakat hewani. Dalam jenis masyarakat seperti ini, semangat untuk membela agama, kesucian, dan tanah air tidak memiliki arti apapun. (Ayatullah Mujtaba Tehrani)

 

(sumber: http://www.shabestan.net/id/pages/?cid=5515)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1700/Ketika%20Rasa%20Malu%20Telah%20Sirna

Iklan
By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s