Memaknai Zikir

Salah satu ibadah yang bisa dijalankan setiap saat dalam setiap aktifitas adalah berzikir kepada Allah SWT. Tangan bisa sambil bekerja, hati dan lisan bisa bergerak untuk mengucapkan zikir. Tentunya akan lebih sempurna dengan diiringi pemahaman dan keyakinan atas apa yang dizikirkan tersebut.

 

Misalnya zikir “Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim“, ketika tengah bepergian kita ucapkan, sehingga hati akan tenang hendak berangkat ke mana pun minta kepada Allah agar diberi perlindungan. Tidak ada yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Segala sesuatunya diserahkan kepada Allah saja.

 

Kepasrahan kepada Allah merupakan manifestasi keimanan, wujud keyakinan kepada Allah, percaya terhadap apa yang diperintahkan dan ditakdirkan Allah SWT. Zikir ini harus diwujudkan dalam sikap keseharian kita, di antaranya keyakinan tidak ada yang patut dipasrahkan jiwa raga kecuali kepada Allah. Ketika sakit, meyakini tidak ada yang bisa memberi kesembuhan kecuali Allah. Ketika merasa takut, tidak ada yang ditakuti kecuali takut kepada Allah. Begitu juga ketika berbicara cinta, tidak ada yang patut dicintai kecuali melebihi cinta kepada-Nya, mencintai yang lain yang berhak dicintai, karena Allah semata saja, dan dibawah kadar cinta kepada-Nya.

 

Ketika memulai pekerjaan ucapkan “bismillah“. Semua kegiatan mesti atas nama Allah. Sehingga memunculkan sikap optimis, tidak pesimis, juga ikhlas semata-mata karena Allah. Ketika mendapat nikmat ucapkan“alhamdulilah”, semua puji tanpa kecuali milik Allah, maka ketika ingin dipuji orang lain itu artinya ingin merampas hak Allah dengan sikap riya. Ketika mendapat sesuatu yang menyenangkan ucapkan “masya Allah”. Artinya, atas kehendak Allah semua ini.

 

Ketika berjanji “insya Allah“. Artinya, andai Allah menghendaki, namun bukan berarti menolak secara halus. Ketika mendapat nikmat ucapkan ‘alhamdulilah‘, karena semua nikmat berasal dari Allah SWT, dan boleh jadi ketika mendapat nikmat ada orang lain yang dirugikan, tersisihkan, membuat orang lain kecewa, lalu sertakanlah dengan ucapan “istighfar“. Kita ingin memperoleh kesuksesan tanpa membuat orang lain sakit hati, maka kita mohon ampun kepada Allah “astaghfirullahal ‘azhiim“. Dan yakini atas kesucian Allah atas nikmat yang diberi, maka ucapkan “subhanallah wabihamdihi “, sucikan Allah puji Allah ketika mendapatkan sesuatu.

 

Ketika mendengar ada musibah kita berlindung kepada Allah, ucapkan “na’udzubillahi min dzaalik“, aku berlindung kepada Allah dari keadaan seperti itu. Kalau sedang di puncak marah beristighfarlah, “astaghfirullah“. Semakin tinggi marah semakin kalap. Seperti api yang membakar apa saja. Maka dianjurkan pula memohon perlindungan kepada Allah. Khusus zikir beristighfar pun ketika terlanjur berbuat salah, membuat orang lain rugi.

 

Nabi Muhammad saw mengajarkan istighfar itu minimal ba’da salat tiga kali. Sehari paling tidak 15 kali setelah salat. Ada juga rutin yang dijalankan oleh nabi saw meminta ampun paling sedikit 70 kali.

 

Dalam QS. adz-Dzaariya [51]: 17-19 diungkapkan mengenai sifat orang yang bertakwa yang akan mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan, istighfar di waktu sahur, “Hanya sedikit bagian malam yang dihabiskan untuk tidur; pada waktu sahur (akhir malam) mereka sibuk memohon ampunan; dan di dalam harta mereka ada alokasi untuk kaum papa, yang minta maupun yang tidak minta.”

 

Beberapa bentuk zikir yang rutin dibaca Nabi saw setelah salat adalah istighfar tiga kali, tasbih, tahmid, dan takbir 33 kali. Ada tiga tanda bukti cinta seorang hamba kepada Allah, pertama, zikir. Zikir ini merupakan bukti cinta kita kepada Allah, juga merupakan bentuk riyadhah/latihan. Dan Allah SWT pun mencintai hamba-Nya yang selalu menyebut nama-Nya dalam kehidupan sehari-harinya.

 

Memperbanyak zikir akan berpengaruh terhadap jiwa kita pula. Misalnya, dengan memperbanyak zikir subhanallah walhamdulillah walaailaaha ilallahu wallahu akbar wa laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim, boleh diucapkan setiap saat. Zikir bukan hanya dijalankan setelah salat, dan saat salat malam, bahkan kapan pun merupakan bagian dari ibadah yang berdampak terhadap kemampuan sabar dalam kehidupan. Berpengaruh terhadap kepasrahan agar tidak ada rasa takut, rasa khawatir, dan semakin mantap dalam menghadapi kehidupan ini. Sehingga terhindar perasaan sedih, kecewa, stres, tersinggung yang subyektif. Zikir akan mudah memasrahkan semua urusan hanya kepada Allah. Zikir pun akan menjadikan manusia-manusia yang unggul.

 

Kedua, dengan membaca al-Quran akan mendatangkan cinta-Nya, insya Allah juga menenangkan sehingga akan menjadi manusia yang dicintai Allah. Sebagai bukti cinta kita kepada-Nya harus banyak membaca al-Quranul Karim. Membaca al-Quran berbeda dengan membaca buku, membaca buku harus paham, tapi membaca al-Quran akan berpahala, walaupun belum paham. Akan lebih sempurna jika membaca al-Quran dan paham artinya, diyakini di hati, maka akan mudah diamalkan. Termasuk menjadi media dialog dengan Allah SWT.

 

Ketiga, bukti cinta seorang hamba dengan cara banyak berkunjung ke masjid. Allah mencintai orang yang banyak berkunjung ke rumah-Nya. Allah  SWT menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid. Ketika orang mencintai masjid berarti dia sudah mencintai pemilik masjid, yakni Allah SWT. Allah akan membalas kecintaan hamba-Nya tersebut dengan kecintaan yang lebih besar.

 

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1845/Memaknai%20Zikir

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s