Telahkah Kita Merdeka?

Sejarah merekam selama rentang awal abad ke-20, marak bermunculan semangat kemerdekaan dalam konteks sosial-kemasyarakatan. Reaksi atas merajalelanya penindasan antara sesama manusia yang berkedok ideologi imperialisme dan kolonialisme. Banyak suku bangsa yang akhirnya terjajah di negeri mereka sendiri.

 

Semangat kemerdekaan itu pun berlanjut dengan tumbuh suburnya paham nasionalisme yang bermuara pada lahirnya negara bangsa (nation state) seperti saat ini. Berdirinya negara-negara berdaulat dan jadi era berakhirnya kejayaan negeri yang bersistemkan monarki atau kerajaan (dinasti).

 

Adapun keinginan untuk merdeka merupakan fitrah manusia. Hak dasar yang telah Allah berikan kepada semua hambanya, tanpa kecuali. Tidak ada satu manusia atau kelompok yang berhak merampas hak istimewa dari Allah tersebut. Seperti yang tersurat dalam ucapan Umar bin Khattab kepada gubernurnya di Mesir, Amru bin Ash ketika putranya tersebut memukul orang Mesir Kopti. Umar berkata, “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan merdeka.”

 

Dalam Quran, kepongahan Firaun yang mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan dan karenanya punya hak untuk disembah (dihambakan), jadi simbol sepanjang masa akan sosok penguasa zalim. Penguasayang merampas kemerdekaan orang lain, dan sekaligus mengambil hak Allah. Yaitu hak (kekuasaan) untuk disembah yang harusnya hanya milik Allah, oleh Firaun dilekatkan kepada dirinya.

 

Pun demikian sosok Nabi Musa. Ia jadi simbol sosok pejuang kemerdekaan. Misi profetik (kenabian) yang diembannya, dalam konteks sosial-kemasyarakatan juga bermakna pembebasan perbudakan terhadap sesama manusia. Sebagaimana wasiat Ali bin Abi Thalib kepada anaknya, “Janganlah engkau menjadi hamba orang lain, karena Allah telah menjadikanmu merdeka.” Wasiat yang layak ditulis dengan tinta emas sejarah ini, juga bermakna bahwa penghambaan hanya pantas diberikan kepada Allah.

 

Mengurai Makna Kemerdekaan

Muhammad Ali al-Hasyimi, dalam bukunya ‘Masyarakat Merdeka’ mengurai secara terperinci akan arti dari kata merdeka. Di bukunya tersebut, al-Hasyimi menyatakan bahwa kemerdekaan atau kebebasan dalam bahasa Arab disebut dengan al-Hurriyyah. Kata al hurr mengandung dua arti, pertama adalah lawan dari budak dan kedua orang yang tidak dikuasai oleh sifat-sifat yang buruk dalam hal urusan duniawi. Jadi, kemerdekaan bisa menunjuk pada sesuatu yang bersifat material dan imaterial.

Begitu pula kata Liberty dan Freedom sebagai istilah kemerdekaan dalam bahasa Inggris, mempunyai makna berbeda. Mengutip apa yang diungkapkan oleh Julia Watner, al-Hasyimi menjelaskan bahwa Freedom lebih merupakan kondisi mental/imaterial. Freedom adalah kebebasan untuk mengontrol diri sendiri. Yaitu hal yang esensial dari sisi seseorang berupa pikiran, jiwa dan semangat. Sementara Liberty mempunyai makna sebuah keadaan ketika kita terbebas dari kungkungan dan kontrol. Merujuk pada kondisi yang bersifat sosial/material.

 

Sehingga al-Hasyimi menyimpulkan bahwa kemerdekaan merupakan situasi batin yang bebas dari himpitan apa pun juga. Bebas dari tekanan yang menderitakan jiwa, pikiran dan gerak manusia. Lebih jauh lagi, al-Hasyimi membedah makna kemerdekaan dalam kaitannya dengan konsep paling mendasar dalam Islam, yaitu tauhiid. Sebagai pilar utama dari teologi keimanan seorang muslim, tauhiid jadi standar utama dalam memilah dan menyaring arti dari kemerdekaan sejati.

 

Islam menurut al-Hasyimi merupakan satu-satunya agama yang mampu menjelaskan dan menempatkan makna kebebasan secara tepat. Al-Quran menyebutkan, “Yukhrijuhum min al-Zhulumat ila al Nur” (Muhammad saw hadir untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya). Pernyataan Allah ini menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang memerdekakan atau membebaskan.

 

Hanya saja, berbeda dengan ideologi liberalisme yang menempatkan kebebasan secara mutlak, maka Islam tidak begitu. Kebebasan secara mutlak ala liberalisme itu sejatinya musykil untuk diterapkan, karena kebebasan dari seseorang pasti akan berbenturan dengan kebebasan dari orang lain. Kalau pun dipaksakan, maka yang terjadi adalah kekacauan. Setiap orang atas nama kebebasan, akan memaksakan kehendaknya. Tidak ada keinginan untuk mengalah dan mempedulikan hak orang lain.

 

Adapun Islam memandang manusia adalah makhluk merdeka atau bebas pada satu sisi dan hamba pada sisi yang lain. Manusia menjadi mahluk merdeka ketika ia berhadapan dengan sesamanya (manusia). Sementara ia adalah hamba (abid) ketika berhadapan dengan Tuhan penciptanya, Allah SWT.

 

Karena itu, manusia tidak bisa dan tidak boleh menjadi budak bagi manusia yang lain. Perbudakan manusia atas manusia yang lain sama artinya dengan melanggar hak Allah. Manusia yang memperbudak manusia lain sama dengan memposisikan dirinya sebagai Tuhan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Firaun. Dengan begitu, kemerdekaan manusia pada hakikatnya adalah konsekuensi paling logis dari ajaran tauhid. Yakni menempatkan Allah sebagai satu-satunya illah yang layak mendapatkan hak untuk disembah.

 

Telahkah Kita Merdeka?

Pembebasan diri dari meng-illah-kan sesama makhluk, dan semata-mata hanya meng-illah-kan Allah, punya implikasi yang sangat luas dalam kehidupan seorang muslim. Saat syahadah (lailaha illa al-Allah) sebagai simbol kemerdekaan sejati ia ikrarkan, saat itu pula seorang muslim hanya mengabdikan diri, tunduk, patuh, sujud hanya kepada Allah.

 

Bentuk konkretnya adalah ia menerima apa pun aturan dari Allah. Dalam ranah pribadi maupun sosial, ia hanya mau diatur oleh aturan Allah secara totalitas. Maksudnya, ia tidak memilah-milah aturan mana dari Allah yang ia jalankan, dan aturan mana dari Allah yang ia tolak atau tidak dilakukan.

 

 

Bila ia mengambil sebagian aturan dari Allah lalu sebagiannya lagi ia buang, sejatinya ia adalah seorang munafik dalam beragama. Dalam Quran, golongan ini (munafik) adalah golongan yang paling hina kedudukannya, bahkan mengalahkan kehinaan dari golongan kafir.

 

Ironisnya, banyak masyarakat muslim yang terlena oleh ‘kemunafikan’ tersebut. Kemunafikan yang entah disadari atau tidak, tergambar dalam sistem bernegara yang dianut. Demokrasi sebagai sebuah ideologi negara, hakikatnya mencederai nilai ketauhiidan seorang muslim. Penghambaan yang harusnya diberikan hanya kepada Allah, dalam demokrasi, ‘penghambaan’ tersebut dipersembahkan kepada golongan mayoritas. Yang tergambar dalam diktum ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’.

 

Begitu pun dalam aturan ketatanegaraan. Tidak menjadikan Quran sebagai dasar dari segala peraturan, adalah bukti nyata dari selubung kemunafikan. Aturan Allah hanya diambil sebagian, sedangkan sebagiannya lagi, diambil dari aturan-aturan buatan manusia yang tidak bebas dari hawa nafsu. “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. al- Furqan [25]: 43-44).

 

Menafakuri realita ini, cobalah kita bertanya pada diri sendiri dan jawab dengan jujur, sejatinya telahkah kita merdeka? Telahkah kita menjadikan nilai tauhiid tidak hanya sebagai pajangan di hati?

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. al-Ahzab [33]: 66-67).

 

(Suhendri Cahya Purnama, editor Majalah Swadaya DPU Daarut Tauhiid)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1848/Telahkah%20Kita%20Merdeka?

Iklan
By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s