Islam dan Dilema Mayoritas

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. al-Baqarah [2]: 132).

 

Agama-agama besar dunia pernah memengaruhi kehidupan politik bangsa kita. Sebelum Islam yang saat ini dipeluk mayoritas penduduk, agama Hindu dan Budha seolah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Saat ini bisa kita saksikan bekas kejayaan nenek moyang yang mayoritas beragama Hindu atau Budha, seperti candi-candi dan prasasti.

 

Kekuasaan politik pemeluk dua agama tersebut akhirnya hancur setelah Islam datang menjadi agama yang dipeluk penduduk negeri ini hingga berdirinya kerajaan-kerajaan yang diperintah oleh kaum muslim. Sampai kini, pemeluk Islam masih menjadi mayoritas. Sejalan dengan maraknya imperialisme Barat (Eropa) yang memiliki tiga moto utama gold, gospel, dan glory (pengerukan sumber daya alam, kekuasaan, dan penyebaran paham agama) ke negeri mayoritas muslim, bangsa Indonesia memasuki masa kolonialisme (penjajahan). Selain terkurasnya kekayaan alam dan lemahnya kualitas sumberdaya manusia, penduduk Indonesia mau tidak mau harus menerima penyebaran paham kristiani yang dibawa penjajah. Terpaksa atau tidak, agama Kristen mulai tersebar dan mewarnai kehidupan bangsa Indonesia.

 

Pergeseran kekuasaan politik pemeluk agama satu dengan lainnya, tidak berjalan sim salabim abra kadabra, tetapi melalui suatu proses evolusi (mungkin ada kasus yang terjadi bersifat reformatiff atau revolutif). Saat ini, sebagaimana sejarah masa silam, tidak menutup kemungkinan sedang terjadi evolusi status mayoritas dan minoritas, baik dilihat dari segi kuantitas maupun kualitas. Secara kualitas khususnya setelah kemerdekaan menurut saya yang terjadi bukan evolusi tetapi revolusi. Karena tingginya kualitas kaum non-muslim dibanding kaum muslim, berjalan begitu cepat.  Bahkan seumur saya, sejak Rhoma Irama menyanyikan lagu “seratus tiga puluh lima juta penduduk Indonesia …” yang waktu itu ‘katanya’ umat Islam sekitar 90 persen, kini mulai mengalami perubahan drastis. Bahkan ada yang menduga banyak kaum muslim yang berganti agama menjadi non-muslim, KTP-nya tetap Islam.

 

Ketinggian Islam (al-Islaam ya’luu wala yu’laa alaih) terkadang tidak diikuti ketinggian akidah dan akhlak pemeluknya. Begitu pula kebenaran Islam (innad diina ‘indallahil Islaam) banyak yang ditinggalkan pemeluknya. Hal ini dibuktikan ketika banyak umat Islam yang tidak peduli terhadap nasib umat Islam lain. Banyak umat Islam yang tidak memikirkan bagaimana akidah dan kehidupan anak serta cucunya kelak. Ini dibuktikan di antaranya banyak umat Islam yang menjual tanah tempat tinggalnya kepada orang lain yang tidak jelas akidahnya atau bahkan sudah jelas yaitu non-muslim. Bahkan banyak yang bangga dengan status haji mansur (halaman digusur), yang ngotot berhaji dengan menjual tanah yang harus diwariskannya. Hasilnya lambat laun kepemilikan tanah di suatu daerah yang tadinya dimiliki kaum muslim berganti tangan kepada non-muslim. Setelah itu banyak hal terjadi, berdiri gereja ini-itu, klinik ini-itu, dan lain-lain. Ada pun anak cucu akhirnya harus rela menempati kawasan-kawasan kotor dan kumuh bahkan ada yang statusnya mengontrak.

 

Sebagai bahan pelajaran dan perenungan, di kawasan tertentu di daerah Yogyakarta, pernah pada suatu waktu tanah di daerah tersebut 90 persen dikuasai muslim, tetapi satu dasawarsa atau lebih kemudian terbalik, pemiliknya 90 persen non-muslim. Begitu pula ada isu dari Bandung, adanya upaya sistematis pemindah-alihan kepemilikan tanah yang tidak disadari sebagian besar umat Islam. Saat ini ada upaya untuk menggiring umat Islam memiliki tempat tiggal di wilayah selatan yang rawan banjir dan kumuh. Adapun kawasan utara yang asri, akan (mungkin sudah) ditinggali kaum non-muslim. Menurut saya kalau isu ini benar-benar ada dan terjadi, yang harus disalahkan adalah kita, umat Islam terutama yang berpikiran pendek dan hanya menuruti hawa nafsu dan kesenangan sesaat.

 

Penyebab lain dari bergesernya jumlah pemeluk Islam di Indonesia adalah kurangnya strategi dakwah. Kita terlalu percaya diri dengan banyaknya dakwah kenvensional (ceramah atau tabligh). Kita sudah kalah beberapa langkah dalam merebut simpati masa mengambang (kaum awam, abangan, kaum yang sebelumnya tidak meyakini adanya tuhan, dan lain-lain) untuk meyakini Islam sebagai ajaran kebenaran. Di antara kita banyak yang bersikap sok paling benar, sok tidak melakukan bid’ah, dan menghujat teman seiring, atau menggunting dalam lipatan. Konsep setiap muslim adalah saudara banyak yang kita campakkan hanya karena pemahaman picik dan emosional. Sehingga kaum yang sebelumnya tidak mengetahui kebenaran Islam hanya melihat Islam dari ummatnya. Akhirnya sebagian dari mereka mengikuti opini umum yang dihembuskan dunia Barat dan mereka pun semakin menjauhi Islam.

 

Seorang ustaz pernah mengingatkan tentang kesalahan langkah kita menghadapi kaum komunis setelah G30S/PKI. Ketika pemerintah menetapkan kebijakan lima agama resmi, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha, yang ‘wajib’ dipeluk salah satunya oleh semua penduduk, sebagian besar kaum komunis memilih agama non-muslim. Di antara alasannya, mereka berpendapat bahwa umat Islam bertanggung jawab atas kehancuran kekuatan mereka. Selain itu, agama-agama non-Islam dengan intens dan dengan wajah simpati mendakwahi mereka. Ada pun umat Islam banyak yang malah bertengkar.

 

Karenanya, masihkah kita bangga dengan kemayoritasan kita?

 

(Ahmad Dimyati, S.Ag adalah alumni IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, pengelola bisnis gas elpji dan koperasi)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1801/Islam%20dan%20Dilema%20Mayoritas

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s