Diary Biru

Semburat jingga di penghujung senja mengawali kisah hidupku yang biru. Pilu, penuh liku. Hangatnya mentari seolah hanya mimpi bagiku yang kini tak lagi sendiri. Aku, bersama ribuan perempuan lainnya hidup di istana tanpa rupa.

Hanya gemuruh lonceng menjadi petanda siang dan malam. Suara kicau burung, tak lagi menjadi melodi penyejuk hati. Riak ombak di pesisir pantai hanyalah irama sejenak penghilang penat.

“Hai…, Izzah. Kenapa kamu melamun saja? Dari tadi aku perhatikan, kamu malah enak-enakan menatap laba-laba yang menggantung di langit-langit. Hati-hati, nanti tanganmu terlilit benang,” suara berat Tita menyadarkanku dari lamunan.

“Eh, Ta. Rupanya dari tadi kamu merhatiin aku ya,” aku menjawab sekenanya.

“Zah…Zah.., dari pagi melamun terus. Nggak capek apa? Mending aku yang ngeliatin. Daripada dilihatin sama si Mira cerewet, terus kamu ditegur lagi. Bisa-bisa Bos ngeluarin kamu dari perusahaan ini. Zaman sekarang, nyari kerja nggak segampang nulis surat lamaran,” Tita mengingatku.

Di balik muka sangarnya, tersimpan kebaikan tulus, yang selalu ku rasa di saat aku membutuhkannya.

Seperti sore tadi, sepulang kerja, Tita menanyakan perubahan sikapku beberapa hari ini. Puncaknya ketika Tita sering memergokiku melamun di jam-jam kerja.

“Zah, lagi ada masalah ya? Ibumu sakit? Bapak kamu nikah lagi? Istri ayahmu, minta uang lagi? Adik….?” cepat-cepat ku gelengkan kepala, sebelum Tita menyelesaikan pertanyaannya.

“Atau… kamu di godain si Parman lagi? Awas ya, kalau dia berani ganggu, ku jamin besok dia nggak bisa ngojek lagi.” Lagi-lagi aku menggelengkan kepala.

“Jadi… sebenarnya kamu kenapa? Cerita saja. Barangkali aku bisa membantu.” Wajah Tita tampak serius. Tapi ekspresi wajahnya malah membuatku tertawa.

“Ta, hari minggu kemarin aku dan Zahra ikut acara pengajian di DT. Kebetulan aku datang pas ceramahnya Teh Ninih. Judul ceramahnya “Sosok Wanita Dambaan Ummat”.  Teh Ninih mengutip sebuah hadits Rasul mengenai kedudukan seorang ibu di mata Allah Swt. “Hormati ibumu.. ibumu.. ibumu.. kemudian ayahmu..”. Kamu tahu, Ta. Ternyata tidak mudah menjadi seorang ibu. Pengorbanan seorang ibu begitu besar. Hingga takkan mampu kita bayar hanya dengan uang hasil keringat kita selama berpuluh tahun. Dan yang paling penting adalah bagaimana seorang ibu bisa mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Begitu penting dan mulianya kedudukan seorang ibu.

“Terus, apa yang jadi masalahnya? Kamu dimarahi lagi sama istri ayahmu?” refleks kembali ku geleng kepalaku.

“Aku… aku… dilamar.”

“Dilamar!!! Dilamar siapa? Kapan?” ku lihat Tita begitu kaget mendengar ucapanku. Aku pun tak percaya dengan apa yang ku ucapkan padanya.

“Harusnya kamu senang, Zah. Si Parman nggak bisa lagi gangguin kamu.Semangat dong, bukannya lemas seperti itu.”

“Entahlah, Ta. Aku harus senang atau sebaliknya. Tapi… aku takut.”

“Takut…??? Apa lagi yang kamu takutkan??? Sudah ku bilang si Parman itu urusanku.”

“Bukan, bukan masalah Parman yang ku takutkan. Aku yakin dengan kekuatan beladirimu, mampu membuat Parman kapok menggodaku.” ku coba tersenyum, meski galau di hatiku semakin memburu.

“Ta, kamu tahu? Menjadi seorang istri berarti harus siap menjadi seorang ibu. Dan tentu saja seorang ibu haruslah sosok yang pantas dihormati. Lalu aku, pantaskah aku dihormati seperti yang disabdakan Rasulullah saw? Kamu tahu, aku hanyalah seorang perempuan tamatan SMP. Ilmu apa yang ku punya selain ilmu memintal benang yang ku dapat sejak aku bekerja di perusahaan itu. Sanggupkah aku menjadikan anak-anakku shaleh dan shalehah? Sementara sudah banyak contoh perempuan berpendidikan yang justru menjerumuskan anak-anaknya ke dalam kemaksiatan. Mereka saja yang sudah tahu ilmu mendidik anak seperti itu, apalagi aku.”

“Tapi… tidak semua perempuan begitu. Menurutku, kegagalan mereka mendidik anak hanya terjadi pada segelintir perempuan saja. Banyak juga Ibu-ibu yang tidak berpendidikan tetapi sukses mengurus rumahtangganya. Contohnya… ibumu. Meski hanya tamatan SD, tapi ibu berhasil menjadikanmu anak yang shalehah. Betul kan?” seulas senyum mengembang di bibirnya. Segaris lesung pipit malu-malu muncul di pipi kirinya.

“Kamu benar, Ta. Tapi… aku masih bingung harus bagaimana.”

“Ngomong-ngomong, kapan kamu dilamar? Terus… siapa lelaki yang melamar kamu?” Tita terlihat penasaran. Cekatan tangannya mengaduk nasi goreng spesial menu makan malam kami. Enak juga satu kosan dengan Tita yang pintar masak. Tak perlu susah-susah membeli makanan di luar. Selain lebih irit, juga bisa lebih terjamin kehalalannya.

“Hei…” tepukan tangan Tita mengagetkanku dari lamunan sejenak.

“Eh… iya… M… kemarin malam, di rumah Ustadz Taufiq. Tapi… namanya, masih rahasia. Nanti saja ku ceritakan. Sekarang… makan dulu. Lapar…” ku sambar sepiring nasi goreng ala Tita. Mencoba melapannya meski selera makanku belum begitu baik.

***

Lembar pertama diary ini, ku isi dengan goresan pensil hati.

… Tlah ku kubur masa lalu dengan ribuan sujud dan lautan air mata sesal.
Biar saja cerita mengalir, bermuara pada lautan maaf-Mu. Inginku luruh dalam ikhlas dan penerimaan pada takdir-Mu.

Izinkan aku masuk melalui salah satu gerbang taubat yang kan membawaku ke altar, di hari saat aku harus bersitatap dengan-Mu.

Sanggupkah ku tengadahkan rupa ini?

Sementara darah dan luka menutupi seluruh wajah dan tubuhku.¹

Selepas tahajud, ku buka sebuah amplop putih bersih yang sejak seminggu lalu ada di kamarku. Terselip di antara tumpukan buku-buku yang ku pinjam dari seorang sahabat yang ku kenal sejak setahun lalu. Seorang mahasiswi sastra di Universitas Negeri Bandung, perempuan berjilbab sepertiku.

Laskar Pelangi. Sebuah buku yang juga membuatku kembali bersemangat mencari ilmu-ilmu baru. Meski ku tahu, tak mungkin aku kembali ke masa lalu, melanjutkan sekolah formalku yang terputus. Tapi aku selalu berharap, kelak adikku bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dariku.

Ku buka amplop putih itu. Selembar foto terjatuh tepat di hadapanku. Yusuf Iman. Seorang dosen muda sebuah perguruan tinggi yang terkenal di kota Kembang, melamarku. Mengajakku melangkah memasuki gerbang baru pada hidupku. Setelah pertemuan malam tadi, aku yakin, ia seorang lelaki yang baik. Bahkan terlalu sempurna untukku yang hanya seorang anak penjual Bakso, dan… berpendidikan rendah. Ayah ibunya yang ustadz ustadzah, adik-adiknya yang aktivis kampus dan keluarganya yang lulusan pesantren. Sulit membayangkan bagaimana aku bisa menjadi bagian dari keluarganya.

Ku coba menguatkankan keyakinanku. Kembali mencoba menyelami makna kata-kata dalam sebuah diary biru yang kuterima beberapa hari lalu, dari sahabatku.

Hati… hanya cukup untuk satu cinta. Bila ruangannya telah terisi oleh dunia, akan dimanakah ku simpan cinta Allah? Yang takkan pernah tertampung oleh jiwa kering dzikrullah.

Rabbana, jangan biarkan relung hatiku terisi olah cinta selain Engkau, meski hanya satu sudut pun. Cukupkanlah kerinduanku pada-Mu lewat malam perjumpaan kita.²

“… ukhti shalehah, jangan lupa selalu meminta kepada Allah agar anti diberi jalan yang terbaik… Saudarimu, Rayna Zahratun Nisa,” begitulah pesan singkat sahabatku, tertulis dalam sebuah diary biru. Sebuah kado terindah dalam hidupku.

***

Semburat jingga di penghujung senja mengawali kisah hidupku yang baru. Tak lagi pilu, mengharu biru. Hangatnya mentari bukan mimpi bagiku yang kini tak lagi sendiri. Suara kicau burung di pagi hari begitu indah. Membentuk simfoni yang harmoni, menyejukkan hati. Harum kuntum-kuntum mawar yang rekah melegakan paru-paru yang kotor penuh debu.

… Aku bukanlah ibunda Aminah yang dari rahimnya melahirkan manusia gagah perkasa, manusia mulia, kekasih Allah, Muhammad saw…

… Aku bukanlah Ibunda Khadijah yang dari rahimnya melahirkan manusia penghuni surga, perempuan mulia, Fatimah Az-Zahra….

… Aku bukanlah Ibunda Hajar yang berlari kesana kemari mencari air untuk anaknya…

… Aku hanya ibunda akhir zaman yang punya harap dari rahimku melahirkan jundi-jundi Allah…

… Aku hanya ibunda akhir zaman yang punya harap keturunannya kelak mencintai Allah dan rasul-Nya, serta jihad di jalan-Nya melebihi apapun…

Allah, kelak aku akan menjadi seorang ibu. Melahirkan dan menjadi seorang ibu. dan bimbing aku menjadi ibunda akhir zaman yang Penuh cinta dan kasih…³ yang mampu membimbing anak-anakku menjadi generasi Rabbani.

Ku tutup diary biru dari sahabatku, Rayna Zahratun Nisa yang kini berada jauh di sana. Setelah sekian tahun lamanya tidak lagi bertatap muka. Hanya kabar yang kuterima, “Innalillah… Ukhti Zahra telah kembali ke pangkuan Allah Swt. Ia dan kedua jundinya wafat dalam bencana Tsunami di Aceh, bersama ribuan orang lainnya.”

“Bunda, sini. Ada pelangi warna warni. Indah… sekali,” teriakan Zahra, putri kecilku yang kini berusia dua setengah tahun. Menyadarkanku dari kenangan indah bersama orang-orang terbaik, yang sampai kapan pun takkan pernah aku lupakan.

“Ya, sayang. Pelangi itu memang indah,” ku peluk erat tubuh mungilnya. Ku cium kening dan kedua pipinya. “Semoga Zahra menjadi anak yang Shalehah.”


(Nurmalasari Bayu, Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung)

Catatan:
¹ dan ² dikutip dari sebuah catatan seorang ukhti
³ dikutip dari eramuslim.com–Jurnal Muslimah – Monday, 15 November 2004

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/13/1657/Diary%20Biru

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s