Emotional Branding

Sejak kecil saya selalu mandi memakai sabun merek Lifebuoy. Kebiasaan mandi menggunakan sabun merek ini terbawa hingga kini. Posisi sabun Lifebuoy belum dapat tergantikan oleh sabun merek lain. Meski banyak sabun sejenis menawarkan kelebihan atau harga yang lebih murah, namun saya tetap loyal terhadap sabun mandi yang satu ini. Memakai sabun ini untuk urusan mandi mungkin sesuatu yang biasa. Namun, menjadikan sabun ini sebagai alternatif antiseptik mungkin agak jarang dilakukan orang. Jika tangan atau kaki saya bersentuhan dengan sesuatu yang saya anggap mengandung kuman, akan plong rasanya jika saya telah mencucinya dengan sabun ini.
Jujur saya akui, sabun ini telah menyentuh emosi saya. Ia telah mengikat perasaan saya, sehingga sayaogah pindah ke merk lain. Dan saya meyakini, banyak orang yang mengalami sesuatu yang sama terhadap sabun ini. Atau mungkin, untuk produk yang lain. Semisal produk air minum, rokok, sepeda motor processor komputer, produk kecantikan, atau produk lainnya. Sekali lagi, merek dari berbagai jenis produk itu telah berhasil menyentuh emosi penggunanya. Dalam dunia marketing ini dikenal denganemotional branding.
Emotional branding, menurut salah seorang konsultan marketing MarkPlus&Co, dapat terbentuk jika merek menyentuh sense and emotion, kemudian memunculkan unique trust. Menurut penulis buku Emotional Branding, Marc Gobe, perasaan dan emosi cukup luas, karena menyangkut sesuatu yang secara kultural relevan, menunjukkan adanya kepekaan sosial, atau hadir dalam semua titik kontak kehidupan manusia. Seperti ketika Lux menyatakan memahami wanita apa adanya-yang penting bukan hanya outer beauty, melainkan inner beauty. Sesuatu yang relevan secara kultural. Contoh lain, Sariayu yang mengembangkan tren warna yang mengakomodasi kekayaan tradisi dan keanekaragaman hayati Indonesia.
Dalam branding, yang mesti dilakukan adalah membentuk right emotion, yang muncul jika ada kemitraan dan komunikasi antara merek dan pelanggan. Artinya, konsep merek lama yang produk sentris, mesti diganti dengan konsep merek yang customer centric. Oleh Marc Gobe, transformasi konsep branding itu disebut The Ten Commandments of Emotional Branding-dari konsumen ke manusianya, produk ke pelanggan, kejujuran ke pengakuan, kualitas ke preferensi, kemasyhuran ke aspirasi, identitas ke personalitas, fungsi ke perasaan, ubiquitas ke presensi, komunikasi ke dialog, dan pelayanan ke hubungan.
Harus diakui, membentuk right emotion bukan pekerjaan gampang. Right emotion bukan hanya berperan menentukan merek yang dipilih, tetapi juga tingkat interaksinya. (AK al-Bantani)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/7/1766/Emotional%20Branding

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s