Bukan Bidan Biasa!

Sepanjang sejarah peradaban Islam, ribuan tokoh telah mewariskan pelajaran, hikmah atau pun keilmuan mereka. Dalam bidang kesehatan misalnya, sebut saja nama-nama seperti Ibnu Sinna (Avicenna), Abu bakar ibnu Zakariya Ar-Razi (Ar-Razi), Ibnu Qoyyim Al-Jauzy, Imam Al- Ghazali, Abu Raihan Muhammad Al-Biruni. Mereka tak hanya seseorang yang dikarunia kedalaman ilmu agama, tapi juga termasuk pakar dalam ilmu kesehatan.

Tokoh dari kaum muslimah pun tak ketinggalan menorehkan nama mereka dengan tinta emas. Sejak Rasulullah dalam buaian, kita telah mengenal sosok pribadi seperti Aminah (ibu kandung), Ummu Aiman (perawat), Halimah Al-Sa‘diyah (ibu asuh), Fatimah binti Asad (istri Abu Thalib), Syifa binti Auf (bidan Rasulullah), dan Tsuaibah (ibu susuan Nabi).

Kita juga mengenal sosok sekaliber Rufaidah binti Sa’ad, salah seorang sahabat Rasulullah yang berada di garis terdepan dalam merawat para korban perang antara muslim dan kaum kafir di awal perjuangan Islam. Keprofesionalitasan Rufaidah bahkan bisa disejajarkan dengan tokoh perawat terkenal dari Eropa yaitu Florence Nightingale, pelopor perawat modern dari Italia.

Mereka semua mengajarkan bagaimana memiliki kepribadian yang luhur dan berlimpah empati. Mampu memberikan pelayanan kesehatan kepada sesama manusia tanpa terbebani oleh pamrih. Sebagai tenaga kesehatan, mereka tampil menyempurnakan kemuliaan dan keagungan Muhammad sebagai pemimpin umat manusia, dan peradaban Islam yang gemilang.

Pengabdian Tanpa Batas
Salah satu tenaga kesehatan itu adalah bidan. Profesi yang kelihatan mudah tetapi sulit untuk dijalani. Karena pekerjaan ini menyangkut nasib seorang perempuan sepanjang daur hidupnya. Mulai dari kehamilan, persalinan, dan nifas. Semuanya seolah-oleh terbebankan pada kehandalan seorang bidan.

Tantangan dan tanggung jawab ini semakin bertambah berlipat-lipat bagi seorang bidan yang membaktikan hidupnya di desa-desa terpencil. Desa yang jauh dari akses atau transportasi yang memadai. Di tempat ini, ketangguhan mereka sebagai public health worker dan social worker akan sangat teruji.

Berbeda dengan profesi-profesi lain yang berlimpah materi dan prestise, bidan desa adalah profesi yang mengemban pengabdian tanpa batas. Ketika seseorang telah menetapkan hatinya untuk menggeluti profesi ini, berarti ia harus siap bekerja sendiri, sarana dan prasarana yang jauh dari memadai, dan dalam waktu 24 jam senantiasa siap siaga ‘mengantar’ kelahiran seorang anak manusia beserta ibunya dengan selamat. Luar biasa!

Bidan Desa, Bukan Bidan Biasa
Sebagai salah satu negara yang tinggi tingkat kelahiran maupun kematian ibu hamil dan bayi, keberadaan bidan di Indonesia amatlah penting. Terlebih untuk bidan desa, yang notabenenya masyarakat dhuafabanyak berdiam di desa-desa, maka tingkat kematian ibu hamil dan bayi juga terbilang tinggi. Hal ini membuat tanggung jawab para bidan desa menjadi semakin berat dalam meminimalisasi jumlah kematian tersebut.

Tak hanya itu, kesulitan ekonomi yang umumnya dirasakan oleh para warga desa juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan bidan desa di daerah-daerah terpencil. Kemiskinan warga desa membuat pengorbanan sepenuh hati para bidan dalam memberikan pelayanan terhadap mereka sering tak mendapatkan penghargaan setimpal. Hanya karena hati nurani, rasa kemanusiaan yang tinggi, dan semata-mata mengharap ridha dari Allah, membuat para bidan tersebut bisa bertahan mengabdi.

Apabila kita bandingkan dengan negara lain, misalnya dengan Selandia Baru, akan terlihat kekontrasannya. Di Selandia Baru, seorang bidan pada umumnya bekerja di klinik atau rumah sakit. Mereka bekerja selama 8 jam sehari dan bekerja secara tim. Kondisi ini berbeda dengan bidan desa di Indonesia yang mengorbankan waktu 24 jam setiap hari untuk melayani masyarakat dalam ‘kesendiriannya’ (tanpa tim).

Padahal, Selandia Baru termasuk negara yang angka kelahiran penduduknya terbilang rendah di banding Indonesia, yaitu kurang lebih 5.000 persalinan per tahun. Populasi Selandia Baru pun hanya sekitar 4,4 juta jiwa, tingkat kesejahteraan warga yang tinggi, dan sistem kesehatan (termasuk kelahiran) tertata baik.

Bertolak belakang dengan Indonesia yang jumlah penduduk luar biasa banyak, tingginya tingkat kelahiran dan wilayah membentang luas. Semua kendala ini semakin diperparah dengan terus mengguritanya jumlah penduduk miskin (terutama di desa), masih kacaunya sistem kesehatan, dan tingkat kematian ibu dan bayi yang terus meningkat.

Di sinilah profesi seorang bidan desa bagaikan oase. Dedikasi mereka sangatlah terasa bagi para warga dhuafa di desa atau daerah terpencil. Untuk itu, kita pantas memberikan apresiasi yang tinggi. Apresiasi yang bisa berbentuk dukungan moral maupun materil. Karena mereka, para bidan desa memang bukanlah bidan biasa! (Suhendri Cahya Purnama, Editor Portal dpu-online.com)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1703/Bukan%20Bidan%20Biasa!

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s