Tentang Lailatul Qadr

Mendapatkan Lailatul Qadr menjadi dambaan insan beriman, karena Allah menurunkan rahmat dan keberkahan. Amal-amal ibadah dan saleh yang dikerjakan, nilainya lebih baik daripada amal-amal tersebut dikerjakan selama seribu bulan (83 tahun) yang tidak ada Lailatul Qadr di dalamnya.

 

Pada saat Lailatul Qadr, para malaikat turun ke bumi. Ada yang mengatakan mereka turun dengan membawa rahmat, keberkahan dan ketenteraman bagi manusia. Ada juga yang berpendapat, mereka turun membawa semua urusan yang ditetapkan dan ditakdirkan oleh Allah SWT, untuk masa satu tahun. Sebagaimana Allah  berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. ad-Dukhan [44]: 3-5).

 

Lailatul Qadr adalah malam yang terbebas dari keburukan dan kerusakan. Pada malam itu pula banyak dilaksanakan ketaatan dan perbuatan baik. Pada malam itu penuh dengan keselamatan dari azab, sedangkan setan tidak bisa menggoda sebagaimana keberhasilannya pada selain malam itu. Maka, malam itu seluruhnya berisi keselamatan dan kesejahteraan.

 

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadar [97]: 5).

 

Keberadaan Lailatul Qadr dirahasiakan oleh Allah SWT dengan hikmah yang dikehendaki-Nya. Yaitu (boleh jadi) agar para hamba bersungguh-sungguh beribadah di setiap malam, dengan harapan agar mendapatkan Lailatul Qadr. Bagi siapa yang meyakini bahwa Lailatul Qadr ada pada malam tertentu, maka ia akan menghidupkan malam tersebut dengan ibadah. Dan bagi siapa yang ingin memastikan dirinya mendapatkan malam tersebut, hendaknya ia mencurahkan semua waktunya untuk beribadah kepada-Nya sepanjang bulan Ramadan sebagai bentuk syukur kepada-Nya dan membenarkan janji-Nya.

 

Insya Allah, inilah hikmah utama dirahasiakannya Lailatul Qadr. Dan inilah yang disyaratkan dalam sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya aku telah keluar untuk memberitahu kepada kalian (kapan Lailatul Qadar itu). Tetapi (di tengah jalan) aku bertemu dengan fulan dan fulan yang sedang bertengkar, sehingga aku terlupa kapan malam itu. Semoga ini lebih baik bagi kalian. Oleh karena itu, carilah malam tersebut pada (malam) kesembilan, ketujuh, dan kelima (dari sepuluh hari terakhir).” (HR. al-Bukhari).

 

Hendaknya seorang muslim memperbanyak saalat, tilawatul quran, sedekah, zikir dan doa di dalamnya. Dianjurkan juga menjauhi istri untuk memaksimalkan ibadah di malam itu, serta membangunkan keluarganya untuk ikut menghidupkan malam kemuliaan tersebut. Dikabarkan oleh Aisyah ra, “Adalah Rasulullah saw, apabila sudah masuk sepuluh hari terakhir Ramadan- beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Muttafaq ‘alaih).

 

Sepatutnya seorang muslim bersemangat dalam menelusuri suatu malam yang memiliki kedudukan seperti Lailatul Qadr. Orang yang merugi adalah mereka yang tidak mendapatkan pahala pada malam tersebut. Seorang yang tidak bersemangat dalam mencari keuntungan pada malam yang mulia ini, kapankah dirinya akan bersemangat lagi? Seorang yang tidak bertaubat kepada Allah pada malam yang mulia ini, kapankah dia akan bertaubat? Dan seorang yang senantiasa malas dalam melakukan kebaikan di malam ini, maka kapan lagi dirinya akan beramal?

 

Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya meriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah ra, beliau berkata, Aku berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui waktu malam Al Qadr, apakah yang mesti aku ucapkan pada saat itu?” Beliau menjawab, “Katakanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni (Yaa Allah sesungguhnya engkau Maha pemberi ampunan, suka memberi pengampunan, maka ampunilah diriku ini).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).

 

Doa yang penuh berkah ini memiliki kandungan makna yang agung, manfaat dan pengaruh yang besar serta sangat selaras dengan malam mulia ini. Bagaimana tidak? Bukankah pada malam tersebut akan dirinci segala urusan yang penuh hikmah, yaitu segala amalan para hamba ditentukan untuk setahun yang akan datang hingga malam Al Qadr berikutnya. Maka, barangsiapa yang diberi rezeki pada malam itu berupa perlindungan dan pengampunan dari Rabb-nya, maka sungguh dirinya telah beruntung dan mendapatkan laba yang teramat besar. Barang siapa yang diberikan perlindungan di dunia dan akhirat, sungguh dirinya telah memperoleh seluruh kebaikan, karena tidak ada yang setara dengan perlindungan dari Allah.

 

Dianjurkan untuk membanyak doa pada saat Lailatul Qadr. Doa apa saja yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat, dianjurkan untuk dimunajatkan kepada Allah karena ia termasuk waktu mustajab. Dan di antara doa khusus yang disyariatkan untuk dibaca di dalamnya adalah apa yang diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca?” Rasulullah saw menjawab, “Ucapkanlah:

 

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

 

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha pemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.“(HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

(KH. Drs. Muchtar Adam, Pimpinan Umum Pondok Pesantren al-Quran Babussalam Bandung)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1846/Tentang%20Lailatul%20Qadr

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s