KH. Hilman Rosyad: Zakat Bukanlah Derma!

 

“Zakat itu bukan kegiatan derma atau menolong. Bukan charity. Tapi zakat adalah taat melaksanakan perintah Allah. Karena apa yang diberi adalah pemberian Allah. Jadi, jangan pernah merasa kalau sudah berzakat kita berarti menolong orang lain. Jadi sekali lagi, zakat itu adalah perintah Allah!”

 

Demikian salah satu kalimat yang diucapkan oleh KH. Hilman Rosyad Syihab, Dewan Syariah Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT), dihadapan para jamaah yang memenuhi Masjid Daarut Tauhiid Bandung, Ahad (29/8) siang.

 

Dalam kesempatan tersebut, KH. Hilman yang saat ini juga diberi amanah sebagai Tenaga Ahli Menteri Sosial itu menyampaikan bahwa dengan memahami arti zakat, maka seseorang akan mampu melaksanakannya semaksimal mungkin.

 

“Konsep utama zakat adalah diambil dari orang kaya dan didistribusikan kepada orang miskin. Walaupun ada delapan asnaf yang berhak menerima zakat, akan lebih baik jika zakat diprioritaskan bagi fakir miskin,” ujar anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2004-2009 itu.

 

“Apalagi kondisi sosial negara kita saat ini, terdapat 19 juta kepala keluarga (kk) yang berada di bawah garis kemiskinan. Setara dengan 70 juta rakyat Indonesia atau 1/3 jumlah rakyat ini adalah orang miskin. Terlebih bila dihitung dengan pengangguran terbuka dan sebagainya, luar biasa! Dana zakat seharusnya mampu mengatasi masalah sosial ini,” lanjutnya.

 

Mengingat pentingnya optimalisasi zakat dalam memberantas kemiskinan dan rencana perubahan UU Zakat yang rencananya akan bersifat sentralisasi ke pemerintah, KH. Hilman berpendapat agar hal ini disikapi pemerintah dengan tepat.

 

“Zakat itu boleh dikelola negara tapi tidak dimasukkan sebagai kekayaan negara sebagaimana pajak. Pengelola zakat sebaiknya adalah civil society (lembaga amil-red), seperti DPU DT ini. Jadi, diberlakukannya undang-undang zakat itu untuk menjangkau lebih luas para wajib zakat agar mau membayar kewajiban zakat,” ujarnya.

 

“Tapi yang paling penting dari zakat bukanlah menghitungnya, tapi bagaimana membayarkannya. Itu butuh kesadararan dan keikhlasan,” lanjut KH. Hilman. (Suhendri Cahya Purnama/2010)

Iklan
By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s