Helaan Nafas Terakhir Sang Moor, Runtuhnya Islam di Bumi Spanyol

Jauh sebelumnya, Spanyol adalah satu kerajaan islam dengan nama Andalusia. Sampai akhirnya, satu persatu kota-kota itu direbut oleh Spanyol, Cordoba, Sevilla (pusat ekonomi), Jerez (pusat militer), Pantai Mediterania dan Lembah Ebro. Seluruhnya? Tidak, masih ada satu kota tersisa, satu benteng terakhir umat muslim, kota itu disebut Granada dan inilah kisahnya.
Granada, atau Emirat al Granatah berdiri tegar di samping kerajaan Castilla dan Aragon. Sebenarnya keinginan Castilla untuk menaklukkan Granada sudah dimulai sejak abad 13, Keinginan ini dilatar belakangi oleh kepentingan politik dan agama. Keinginan ini berbuah menjadi semangat reconquista (penaklukkan ulang). menggantikan convivencia, atau hidup dengan Granada. Semangat ini melahirkan sekte besar yang bernama Sekte Maria. Tujuannya mempersembahkan tempat peribadatan Granada kepada perawan maria dan orang-orang kudus. Di tambah lagi semangat Perang Salib juga telah menyulut hingga ke spanyol.


Kehidupan Granada

Granada menjadi tempat berlindung bagi kaum muslim (moor) dan yahudi dari seluruh penjuru Andalusia, sebuah negeri yang makmur dengan militernya yang kuat. Disana terdapat lahan subur dengan air mengalir yang di sebut Vega, kaum bangsawan muslim banyak yang membangun vila di sana. Bahasa Arab yang berkembang di sana disebut Al Gharbi (barat) karena banyak mengandung bahasa latin.

 

Castilla dan Aragon
Keduanya adalah kerajaan yang dianggap bertanggung jawab atas hancurnya Andalusia dan Granada. Di kedua wilayah ini, sebenarnya masih ada segelintir kaum muslim dan Yahudi, yang muslim disebutmudejar, yang Yahudi di sebut converso, mereka sering mendapat tekanan dan ancaman dari otoritas Spanyol, bahkan dipaksa membantu Castilla dalam menaklukkan Granada.
Para Pemimpin Spanyol

Ratu Isabella, Seorang ratu dari Castilla, Ia fanatik terhadap agamanya dan sangat intoleran, menikah dengan raja Fernando dari Aragon.

 

Raja Fernando, Suami dari Isabella, kedua pasangan ini pandai meniupkan propaganda publik, dengan menyebut Fernando sebagai “kaisar terakhir yang dijanjikan yang kelak merebut Yerusalem” atau “new David” atau “yang tersembunyi”.
Don Diego Fernandez de Cordoba yang bergelar conde de Cabra, seorang Jenderal Castilla pertama yang bergelar Conde, keberhasilanya adalah menangkap Muhammad XII. Seperti yang terlantun dari bait kuno: Di dinding Baena tangan di Janggut, bersandarkan dadanya, Si Raja kecil menangisi, bagaimana ia dipenjarakan, biarpun ia telah menunjukkan keberaniannya, oleh dia yang dari cabra.
Kemiliteran Spanyol
Castila memiliki agen rekrutmen militer yang di sebut Continos, sebagian besar sukarelawannya para pengangguran dan kriminal yang mendapatkan pengampunan jika ikut berperang. Selain itu ada juga tentara bayaran berupa penembak dan pemanah dari Perancis, Jerman, Italia dan kerajaan lain di Spanyol, pasukan Kapak dari Swiss juga Artileri dari Burgundi.

Terdapat Cavaleri Ringan yang disebut jinete, menggunakan kuda dengan tombak ringan atau lembing. Juga terdapat infanteri yang jumlahnya lima kali lipat lebih banyak dari infanteri Granada.
Mudejar, kaum muslim yang hidup dibawah kekuasaan Castilla, mereka ikut berperang di lini belakang sebagai dokter, pandai besi dan baju zirah, logistic, pemain seruling dan drum.
Castilla memiliki beberapa ordo milter, mereka adalah pasukan elit yang dilatih secara khusus, yaitu Ordo Alcantra, Calavatra dan yang terkuat adalah Santiago.

 

Para Pemimpin Granada
Terbagi menjadi yang pro dan anti Castilla, keadaan ini sebenarnya menguntungkan musuh.
Pro Castilla

Muhamad XII atau Boabdil (kependekan dari Abu Abdullah). Ia menjadi amir saingan setelah memberontak terhadap ayahnya, Abu al Hasan Ali. Mendukung perdamaian dengan Spanyol, sosok yang kurang berpengalaman dan mudah di pengaruhi. Otoritas muslim Granada bahkan tidak mengakui Muhammad XII karena berkawan dengan Castilla.
Ibrahim Ali Al Attar, prajurit yang sudah sangat tua, namun berpengalaman, sangat berpengaruh di kehidupan Boabdil, bahkan putrinya dinikahi oleh Boabdil.
Anti Castilla
Abu al Hasan Ali, ayah Boabdil, Amir Granada.
Muhamad XIII, dikenal dengan nama Al Zagal, atau sang pemberani, dia adalah adik sekaligus sekutu utama Abu al Hasan Ali, paman dari Boabdil.
Hamid Al Zagri, seorang prajurit tua yang gagah berani, komandan garnisun sukarelawan Afrika utara di Ronda dan Malaga.
Ridwan Benegaz, Seorang Renegadoz, ksatria kristen yang menjadi mualaf.

Kemiliteran Granada
Militer Granada mendapat gaji yang lebih tinggi dibandingkan musuhnya. Pusat kekuatan mereka terletak di Granada, Malaga, Ronda, dan Guadix. Di dalam pusat kemiliteran itu terdapat 30 daerah militer dan 13 benteng besar, benteng terpenting adalah Alcazaba yan terletak di sudut istana Alhambra.
Bala tentara direkrut lewat Departemen Pertahanan Granada atau Diwan al jaysh, dengan Jumlah kavaleri 3000 orang dan infanteri 50.000 orang. Sebagian tentara berprofesi sebagai dokter, ahli besi dan zirah, juru tulis.
Terdapat sejumlah Ghuzzat atau sukarelawan, kebanyakan berasal dari suku Zanata Afrika Utara yang ikut berperang karena panggilan jihad. nama mereka diabadikan untuk kavaleri ringan Jinete. Setiap Ghuzzat di pimpin oleh wali yang berasal dari daerah masing-masing yang memiliki hubungan dengan amir.
Terdapat juga elit militer pengawal amir yang dikenal dengan nama ma’lughun, perekrutan mereka seperti Mamluk di mesir atau Yanisari di Turki, mereka adalah tentara Kristen yang masuk islam, di didik di istana Alhambra. Kelompok ini disebut renegadoz atau penghianat oleh Castilla, dan mendapat perlakuan kejam bila terangkap.

 

Terdapat kaum sufi dan imam-imam yang bertugas untuk memelihara semangat juang tentara.

Prajurit kavaleri moor yang paling ditakuti tentara Castilla adalah pemanah berkuda dari Arab dan barbar, juga penunggang kuda berkapak.

 

Senjata-senjata khas yang dimiliki tentara moor antara lain:
1. Kapak Pasukan berkuda, Kapak ini mampu menembus baju Zirah
2. Busur silang Granada, bentuknya disesuaikan dari yang model infanteri sampai untuk penunggang kuda.
3. Ketapel, senjata ini paling dikuasai dan di miliki oleh para pengembala ternak yang ikut berjuang
4. Lembing azegaya untuk kavaleri, memiliki mata penembus baju zirah, berasal dari sahara selatan
5. Pedang melengkung pendek, dari Granada dan maroko
6. Belati tipis penusuk khas bangsa barbar
7. Tameng kulit berbentuk ginjal yang disebut daraqa, pada akhirnya di akuisi spanyol dengan nama adarga.
8. yang termutakhir adalah meriam dan senapan api.

Hanya sedikit tentara yang memakai baju zirah, kebanyakan dipakai oleh para elite militer, sebagian baju zirah itu hasil rampasan atau ghonimah.

 

Strategi Pertempuran
Berbeda dengan Castilla yang menyerang, Granada lebih memilih bertahan, Karena saat itu keadaan politik Granada sedang risuh, menyusul pecahnya Granada menjadi kubu Boabdil yang pro Castilla dan kubu Al Zagal yang anti castilla, hal ini diperparah dengan Kesultanan Mesir mamluk atau Turki Ottoman yang tidak memberikan bantuan. Sementara beberapa benteng Granada telah bergeser jauh dari zona perbatasan dan wilayahnya tidak strategis. Hal yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan kegesitan tentara Moor, dengan cara memancing musuh ke pegunungan dan melancarkan perang gerilya maupun terbuka.
Awalnya, Fernando melakukkan taktik bumi hangus, ia menyerang dan menghanguskan setiap gudang perbekalan Moor, berikut kebun buah dan ladang, belakangan taktik itu ditarik, karena berdampak pada kurangnya logistik Castilla.

Terkadang satria moor terlibat dalam perkelahian satu lawan satu dengan tentara Castilla. Tentara Moor sangat mahir dalam pertarungan ini, sampai-sampai dikatakan bahwa mereka hanya bisa dikalahkan oleh bantuan tuhan. Menyadari tentaranya banyak yang berkurang, akhirnya Fernando melarang pertempuran ini.

 

Spanyol lebih unggul dalam strategi pengepungan, mereka mebangun benteng-benteng kokoh sebagai pangkalan militer yang disebut “Kota Kontra”. Salah satu yang terkenal adalah Santa Fe yang dibangun sebagai pangkalan tetap untuk mengepung Granada.

Jalannya pertempuran
Tahun 1478,
Genjatan senjata berakhir dengan penyerangan Amir Abu al Hassan Ali ke kota perbatasan castile, yaitu Zahara. Peristiwa ini di balas dengan penaklukkan Alhama oleh Castilla. Serangan dibuka oleh komandan Ordo Escaladores yang bernama Juane Ortega, ia berhasil mendirikan tangga menuju benteng, dan membawa 3000 infanteri dan 2500 kavaleri masuk. Dalam tragedi ini tentara moor dibinasakan oleh Castila.

 

Amir Abu al Hassan Ali mengirimkan pasukan dari Ronda untuk merebut Alhama, namun gagal, Fernando menjadi pemilik resmi Alhama.

Tahun 1482,
Isabella ingin menguasai Loja, Amir Abu al Hassan Ali meminta bantuan dari negara-negara muslim, tapi hanya sedikit yang datang dari maroko dan afrika utara. Fernando mengirimkan satu detasemen dari Orde Calatrava untuk mendirikan pangkalan infanteri di bukit Albohacen guna menguasai Loja. Komandan garnisun Granada, Ali Al attar memancing agar pasukan Calatrava mengejar mereka, siasat ini berhasil, jinete muslim yang bersembunyi langsung membantai mereka. Satu jam kemudian, detasemen castilla yang lebih besar tiba, namun berhasil di libas oleh pasukan moor, Komandan ordo Calatrava sendiri yang bernama Rodrigo Telezz Giron tertusuk panah.

Setelah kemenangan ini, Boabdillah memberontak terhadap kekuasaan ayahnya, ia memilih berdamai dengan Castilla.keamiran pun terbelah.

Tahun 1483.
Don Alfonso de Cardenas, komandan ordo Santiago berencana untuk menyerbu pelabuhan Malaga, ia berani melakukkan ini karena mendengar kabar bahwa Malaga hanya dijaga sedikit pasukan. Rencana ini didukung para penasihat dan ahli perbatasan. Sayangnya, ia banyak membawa sukarelawan amatir yang hanya menginginkan harta jarahan, akibatnya pergerakan mereka menjadi lambat.

Di luar dugaan, Malaga ternyata di jaga banyak kavaleri. Al Zagal lalu membawa sepasukan kecil berkuda yang akan menghadang tentara castilla di lembah-lembah. Sementara Amir Abu Al Hassan menyerang mereka dari perbukitan. Serangan ini melibatkan pasukan terbaik yang bersenjata busur silang dan senapan api dibawah komando ridwan benegaz. Pasukan castilla lari kocar-kacir kebelakang dan langsung di sambut dengan kavaleri Al Zagal. Sebagian pasukan santiago yang selamat memilih untuk bersembunyi.

Dalam pertempuran itu, conde de cifuente, seorang komandan castilla di keroyok oleh 6 orang prajurit moor, merasa tidak adil, Ridwan menantangnya berkelahi satu lawan satu. Tentara Santiago yang bersembunyi pada akhirnya juga menyerah.

Keberhasilan ini membuat Boabdil takut dukungan rakyat kepada dirinya berkurang ia lalu menyerang pasukan Spanyol di Fuentes de Cesna, disini pasukan Boabdil kalah, Ali al Attar sendiri tewas karena melindungi Boabdil. Boabdil yang terluka lalu bersembunyi, namun berhasil ditemukan oleh musuh, dalam keadaan ketakuan Boabdil berusaha menyogok agar dirinya dilepaskan, namun Don Diego Fernandez de Cordoba tetap menangkapnya, keberhasilan ini membuatnya bergelar Conde de Cabra.

Tidak lama kemudian, Abul Hassan menerjunkan pasukan yang dipimpin oleh komandan garnisun Malaga, Bashir, dan Pasukan dari Ronda yang dipimpin oleh Hamid Al Zagri. Pasukan ini berkekuatan 1500 kavaleri dan 4000 infanteri. Namun pasukan spanyol berhasil melindas infanteri Moor dan menangkap basher di dekat Guadalete. Pasukan Hamid Al Zagri kehilangan kontak dan tersesat, Castilla berhasil merebut Zahara kembali.

Tahun 1484,
Penguasa spanyol memperingatkan Genoa dan Venesia agar memutus jalur distribusi pengiriman Ghuzzat dari Afrika Utara ke Granada. Kemudian Spanyol melakukan penaklukan ke Alora, Coin, Cazarabonela, Almexia dan Cartama dalam sepuluh hari. Lalu bergerak menuju lembah subur (vega) di malaga, mereka membuat kerusakan di antequera dan menguasai benteng Setenil.

 

Tahun 1485,
Penguasa Spanyol di Sevilla mengadakan upacara Auto da Fe, membakar 19 orang sebagai isyarat bagi mereka yang berani menentang Isabella , Fernando dan Gereja Katolik. 5 april terjadi pemberontakan sipil muslim di Benamaquex, dan berhasil digagalkan Fernando, 101 orang digantung di tembok-tembok kota dan penduduknya di perbudak.

 

Fernando membolehkan Boabdil pulang ke Granada, ia mendapat julukan Al Zugyubi “si malang” Kemudian Benteng Loja yang di kuasai Hamid Al Zagri jatuh ke tangan Spanyol. Selanjutnya Al Zagal dan qa’id (gubernur) di Moclin dan Illora menyerang musuh yang telah berhasil menguasai vega. Garda depan fernando diserang di Piros de Fuante, namun pasukan moor berhasil dipukul mundur dan kedua Qa’id itu pun tewas.

Tahun 1487,
Separuh keamiran berhasil ditaklukkan, Al Zagal semakin kesulitan menghadapi spanyol, terlebih lagi kini boadil telah resmi menjadi pendukung Spanyol. Satu-satunya harapan Al Zagal adalah menghancurkan artileri berat Spanyol sebelum Velez Malaga di bombardir. Namun sebelum rencana itu terjadi, pasukan fernando telah mengepung kota. Ridwan Benegaz yang saat itu menjadi qa’id Granada di minta untuk membatalkan seragan. Dalam sebuah usaha pelarian Al zagal dipaksa tunduk kepada Boabdil dan ridwan sendiri dipaksa menyerah. Ferando memasuki velez Malaga dengan senyum kemenangan.

Keadaan semakin mencekan, ketika Castilla mengizinkan acara arak-arakan yang menbawa kepala orang-orang moor. Dalam satu kesempatan, seorang Ghuzzat membiarkan dirinya ditangkap oleh tentara spanyol, di sebuah tempat ia bertemu dengan sepasang pasutri bangsawan spanyol yang sedang bersantap ria, dikiranya itu adalah fernando dan Isabella, dengan cepat ia mengeluarkan belatinya dan melukai kedua bangsawan itu. Malang, ia sendiri akhirnya dibunuh, Isabella meminta agar jenazahnya di mutilasi lalu di lempar ke Malaga. Sejak itu ratu Isabel selalu dijaga oleh 200 pasukan. Di Malaga, jenazah itu dijahit lalu dimakamkan sebagai syahid.

Tidak lama kemudian Malaga menyerah, Hamid al Zagri yang tertangkap kemudian dipenjara, di cuci otak dan dikirim ke Roma untuk dijadikan pengawal Paus. Nasib buruk menimpa pasukan Moor, mereka mengalami perlakuan kejam, terutama renegadoz, mereka menjadi sasaran hidup untuk permainan lembar tombak. Sementara para pasukan spanyol yang desersi dan kaum converso dibakar hidup-hidup.

Tahun 1488,

Al Zagal yang tak kuasa menanggung malu menjual seluruh tanah dan bangunan yang tersisa dan lari ke Aljazair dan mati disana.

Tahun 1490,
Boabdil yang sebelumnya pro ke Castilla kini bangkit melawan Spanyol. Bersama Musa Ibn Abul Gazan ia mendorong pemberontakan di Guadix, dan menyerang Pasukan Spanyol yang sedang menyebrang jembatan Pinos Puente, lalu merebut Benteng Maracena dan Ulduy. Namun mereka gagal menyerang Salrena dan Pelabuhan Adra.

Lama-lama kekuatan Boabdil melemah, dalam keadaan sedih Boabdil meminta bantuan Sultan Mesir, namun tidak ditanggapi, karena sultan baru saja meminta bantuan angkatan laut Spanyol untuk menyerang Turki. Begitupun Turki yang tidak bias memberikan bantuan karena sedang sibuk dengan penaklukan Eropa Timur. Boabdil lalu meminta bantuan kepada penguasa Fez, Maroko dan Al Jazair namun tidak diindahkan, mereka lebih suka bermitra dengan Spanyol.

Musa dan Boabdil dengan sisa kekuatanya lalu menyerang Spanyol, namun gagal, inilah serangan terakhir mereka. Fernando dan Isabella lalu membuat perjanjian dengan Boabdil. Boabdil mendapat wilayah Alpujaras yang tidak diinginkan spanyol. Sedangkan Musa menolak ambil bagian, ia meninggalkan tempat perjanjian, lalu pergi membawa senjata lengkap sambil mengendarai kuda. Di Rio Nil, ia menantang sekelompok ksatria spanyol, Musa yang berhasil membunuh beberapa orang terluka parah lalu menghilang.

 

1 Januari 1492,
Saat itu penduduk moor memandang Boabdil dengan tatapan dingin, Boabdil menyerahkan kunci kota kepada Isabella dan Fernando. Umbul-umbul kerajaan dikibarkan di Alahambra.

 

“Santiago!, castilla! Untuk Don Fernando dan Dona Isabella yang maha tinggi lagi perkasa, yang telah merebut seluruh Granada dengan kekuatan senjata dari tangan Moor kafir!” ucap Boabdil. saat itu adalah hari terburuk dalam catatan sejarah muslim, satu bencana yang paling mengerikan yang pernah terjadi dalam peradaban islam. Menurut cerita, Boabdil lalu pergi meninggalkan Granada dengan didampingi ibundanya, Fatimah, sambil mengucurkan air mata ketika melintasi jalur pegunungan, Fatimah terus menghiburnya. jalur yang dilewati Boabdil itu masih terkenal sampai sekarang sebagai “Jalur helaan nafas terakhir sang Moor”.

sumber: runtuhnya islam spanyol, terbitan KPG, google, wikipedia

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/8/1664/Helaan%20Nafas%20Terakhir%20Sang%20Moor,%20Runtuhnya%20Islam%20di%20Bumi%20Spanyol

 
By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s