Cerdas & Mandiri dalam Bingkai Ketauhidan

Ketauhidan adalah ruh dari agama ini, Islam. Misi utama yang dibawa para nabi, sejak Adam as hingga Muhammad saw. Tauhid sejatinya ada di setiap ajaran agama sawami. Namun, seiring bergulirnya masa, nilai-nilai yang memurnikan penghambaan murni hanya kepada Allah itu, tergerus oleh hawa nafsu manusia. Agama hanya tingal seperangkat peraturan formalistik dan simbolis. Sedangkan ruh atau spirit dari agama yakni ketauhidan, telah pupus.

 

Tidak ada keraguan lagi bahwa tauhid memiliki kedudukan yang tinggi bahkan yang paling tinggi di dalam Islam. Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-Nya, sebagaimana dalam hadis Mu’adz bin Jabal radiyallahu ‘anhu. Rasulullah saw berkata kepadanya: “Hai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah? Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau mengatakan: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Menempatkan hanya Allah sebagai muara dari semua permasalahan manusia, berarti menempatkan nilai ketauhidan sebagai pilar kemuslimannya. Ini hanya bisa dilakukan oleh seorang muslim yang cerdas dan mandiri dalam bersikap maupun bertindak. Kedua hal tersebut (cerdas dan mandiri) merupakan perangkat yang wajib dimiliki oleh seorang muslim agar bisa mengamalkan nilai ketauhidan dalam kehidupan sehari-harinya secara sempurna (kaffah).

 

Cerdas dalam Islam

Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal (berbuat) untuk masa sesudah mati, sedang orang yang lemah ialah mereka yang mengikuti nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Ahmad).

 

Menurut hadis ini, kecerdasan seseorang dapat diukur dari kemampuannya dalam mengendalikan hawa nafsunya (cerdas emosi) dan mengorientasikan semua amalnya pada kehidupan sesudah mati (cerdas spiritual). Mereka yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian, mereka juga percaya bahwa setiap amalan di dunia sekecil apa pun akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.

 

Keyakinan tentang keabadian, menjadikannya lebih berhati-hati dalam menapaki kehidupan di dunia ini, sebab mereka percaya bahwa kehidupan ini tidak sekali di dunia ini saja, tapi ada kehidupan yang lebih hakiki. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Siapa yang menanam padi akan menuai padi. Siapa yang menanam angin akan menuai badai.

 

Tidak hanya bersikap hati-hati, orang yang cerdas spiritualnya lebih bersemangat, lebih percaya diri dan lebih optimis. Mereka tidak pernah ragu-ragu berbuat baik, sebab jika kebaikannya tidak bisa dinikmati saat di dunia mereka masih bisa berharap mendapatkan balasannya di akhirat nanti. Jika tidak bisa dinikmati sekarang, amal kebaikan itu akan berubah menjadi tabungan atau deposito secara otomatis yang kelak akan dicairkan justru pada saat mereka sangat membutuhkan di alam kehidupan sesudah mati.

 

Saat menanam pohon, misalnya mereka sangat antusias. Mereka yakin jika pohon tersebut nantinya berbuah tidak ada yang sia-sia sekali pun buahnya dimakan burung atau dimakan orang lain. Sekali pun ia tidak menikmati buah itu di dunia ini, ganjarannya akan dipetik di akhirat nanti.

 

Orang-orang ini, ketika melihat ketidakadilan di dunia tidak segera putus asa. Sekali pun para koruptor bebas berkeliaran, sedang orang-orang saleh justru dipenjarakan, mereka tetap memandang dunia dengan pandangan yang positif. Mereka tetap berjuang menegakan keadilan, sekalipun keadilan yang hakiki barus dirasakan kelak di akhirat. Di depan mahkamah Illahi tidak ada barang bukti yang hilang atau sengaja dihilangkan. Mulut dikunci dan semua anggota tubuh bersaksi.

 

Ciri orang yang cerdas sebenarnya telah tampak jelas dalam derap langkahnya, ketika mereka membuat rencana, saat mengeksekusi rencananya dan pada saat melakukan evaluasi. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari saat sendirian atau dalam interaksi sosialnya nampak wajahnya yang senantiasa bercahaya , memancarkan energi positif, menjadi magnet power, penuh motivasi, menjadi sumber inspirasi, dan berfikir serta bertindak positif. Mereka akan bersikap baik dan benar baik ketika di tengah keramaian maupun disaat sendirian karena di mana pun dia berada merasa dilihat oleh Allah.

 

Orang seperti ini mempunyai integritas, sesuai antara hati, kata dan perbuatannya, selaras antara apa yang ada dalam hatinya, ucapan dan perbuatannya. Inilah profil dari seorangn  sern yahag eras itleltual, emosi dan spiritual enak diajak bergaul, karena mereka telah terbebas dari su’udzon (buruk sangka, hasad (iri atau dengki) dan takabur (menyombongkan diri). Orang-orang inilah yang memiliki potensi untuk meraih sukses di dunia sekaligus sukses menikmati kehidupan surgawi di akhirat nanti.

 

Mandiri dalam Islam

Dalam bahasa  sehari-hari ‘mandiri’ sering dikonotasikan dengan seseorang yang mampu melakukan segala hal secara sendiri. Sebaliknya, seseorang yang tidak mandiri, berarti orang yang segala aktivitasnya, termasuk hal mendasar seperti makan, mandi, berpakaian, semuanya harus dilayani oleh lingkungannya. Begitulah bahasa mandiri dan tidak mandiri dalam konteks kehidupan sehari-hari.

 

Dalam pandangan Islam, seseorang yang mandiri adalah “orang yang mampu memenuhi kebutuhannya baik ghorizah (naluri) maupun hajatul udhowiyah (kebutuhan  fisik) dilakukan sendiri (tidak tergantung orang lain) secara bertanggung jawab”. Maksud dari “bertanggung jawab” adalah meletakkan segala tanggung jawab dalam kaitannya dengan orang lain sebagai bagian yang tidak terpisahkan darinya, yakni sama-sama mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi (Taqiyuddin an-Nabhani, Hakikat Berfikir tentang Hidup).

 

Jadi, seseorang dikatakan mandiri jika dalam upaya pemenuhan kebutuhannya terdapat interaksi antara diri dan lingkunganya (orang lain) yaitu suatu interaksi yang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Pada saat proses pemenuhannya, ia dapat menempatkan posisi diri, orang lain dan alat pemuas kebutuhan (barang dan jasa)secara tepat. Dengan demikian ketika orang itu berupaya memenuhi kebutuhannya tidak dilakukan dengan cara menggantungkan orang lain, merebut dan menguasai milik orang lain.

 

Contoh, dalam konteks seorang anak yang ingin makan. Bagi anak yang mandiri tidak berteriak minta diambilkan makan dan tidak rewel, tetapi ia melayani diri sendiri dengan mengambil sendiri dan jika terdapat anggota keluarga yang belum makan, maka makanan tidak dihabiskan tetapi anak hanya mengambil bagiannya. Demikian halnya jika anak mengetahui bahwa ibunya sedang bekerja di dapur atau mengisi pengajian, maka anak mandiri akan beraktivitas sendiri atau dengan temannya tanpa mengganggu ibunya tersebut.

 

Sebenarnya jika kita cermati, merupakan naluri setiap bayi untuk berkembang menjadi mandiri. Misalnya, mereka belajar untuk tengkurap, merangkak, berjalan, makan, dan belajar minum sendiri. Dalam belajar berjalan, mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa walaupun sering jatuh dan menangis. Bila kita lihat, hal tersebut merupakan upaya untuk menjadi manusia yang mandiri. Hanya saja permasalahanya, lingkungan yang kurang tanggap dan kondusif terhadap proses kemandirian anak, sehingga orang tua memperlakukan secara salah. Akibatnya menjadilah anak yang justru tidak mandiri.

 

Begitu pula bagi orang dewasa. Kemandirian sebagai naluri yang dimiliki oleh setiap manusia, bisa terhambat atau malah terhenti perkembangannya karena pola belajar yang keliru. Yaitu  seseorang yang tidak terbiasa menghadapi kesulitan dan menyelesaikan kesulitannya itu tanpa bergantung kepada orang lain. Idealnya, seorang muslim adalah ia yang cerdas mengolah potensi dalam diri, dan menempatkan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung untuk menyelesaikan masalah. Sejatinya, inilah bentuk dari muslim yang cerdas, mandiri dan bertauhid.

 

(Majalah Swadaya DPU Daarut Tauhiid Edisi Maret ‘12)

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s