Perempuan dalam Perjalanan

 

Secara historis, sungguh muslimah memberikan kontribusi yang sangat mutlak bagi peradaban dunia. Dari rahim seorang perempuanlah terlahir manusia-manusia berpikiran maju dan visioner. Fitrahnya, perempuan sangat mempunyai peran sentral dalam embrio peradaban manusia. Sehingga, pantaslah dalam Islam keberadaan dan kedudukan perempuan sangat dimuliakan dan dihormati.

Dalam sejarah keislaman, Maryam melahirkan Nabi Isa AS yang disucikan umat Kristen. Siti Khadijah, sosok pendamping dan motivator Nabi Muhammad SAW yang menjadi pembaharu sejati. Sayyidah Fatimah Azzahra, seorang pelayan Bapaknya yang ikhlas. Aisyah, penjaga dan penerus hadits. Aisiyah menjadi jalan penghancur tirani yang kufur, Firaun. Dalam konteks ke-Indonesiaan, kita pun mengenal R.A. Kartini dan Dewi Sartika sebagai pemberdaya pendidikan perempuan. Juga Cut Nyak Dien, pejuang pemberani.

Dalam perkembangannya, kedudukan perempuan ini mengalami pembiasan, bahkan sebagian mengalami penurunan peran sampai ke tingkat pengeksploitasian. Karena secara dzatnya, perempuan memang memiliki daya tarik, maka tidak jarang menjadi ajang komersialisasi. Kita mengenal perdagangan dan kekerasan terhadap perempuan. Perempuan bergeser dari subjek menjadi obyek. Kesan ini terus berevolusi dan menyebar, sehingga peran perempuan dalam dunia produktivitas prosentasenya sangat kecil.
Namun, di sisi lain, ada berita gembira dalam dekade terakhir ini, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan sistem pemerintahan yang mengeluarkan kebijakan yang mendukung pemberdayaan perempuan, muncul Kartini-Kartini baru. Jumlah utusan perempuan di parlemen meningkat. Tidak sedikit perempuan memegang pemerintahan. Muncul pengusaha-pengusaha perempuan bertaraf nasional dan internasional

Kami, Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT) sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) juga tidak ketinggalan dalam memperjuangkan nasib perempuan, khususnya dhuafa yang sering menjadi obyek pengeksploitasian.

Melalui program Misykat (Microfinance Syariah berbasis Masyarakat) DPU DT memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan (Diklat) dan modal kerja serta pendampingan kepada ibu-ibu. Tujuannya, agar mereka bisa survive, bahkan mandiri tanpa mengurangi fungsi sebagai istri pendamping suami. DPU DT juga mempunyai program Baby Sitter Mitra Ibu, yaitu Diklat keterampilan profesional mengurus bayi. Diklat bagi muslimah dhuafa ini memberikan skill dengan tujuan, bukan sebagai pesuruh, tapi sebagai mitra pengguna jasa yang lulusannya diadvokasi dengan UMR, sehingga yang tadinya penerima menjadi pemberi.

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s