Cerdas Menafakuri Kematian

Al-Imam Abu al-Fida Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, “Allah mengabarkan kepada seluruh makhluk-Nya, tiap-tiap yang berjiwa pasti merasakan mati. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa.Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. al-Rahman [55]: 26-27).

Hanya Allah  semata yang Maha hidup, tak akan mati. Sedangkan jin, mereka akan mati begitu pun dengan kita yang jelas akan mati. Begitu juga semua malaikat. Tidak tertinggal mereka para pemikul ‘Arsy. Hanya Dia al-Wahid, al-Ahad, al-Qahhar (Allah yang Maha Esa dan Perkasa) yang kekal. Allah yang akhir, sebagaimana Ia adalah yang awal.

Kematian merupakan tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Ia yang mutlak menentukan kapan kita meninggalkan dunia untuk bertemu dengan sang pemilik jiwa kita. Kematian pun menunjukkan kekuasaan-Nya dalam menetapkan semua urusan. Tak ada satu kekuatan di muka bumi ini yang mampu menghadapinya..

Tak bisa tawar menawar dan kita pinta untuk ditangguhkan. Ssemua telah Allah catat dalam catatan kehidupan kita. Sama seperti peristiwa beberapa waktu, yaitu jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak, Bogor. Tak ada yang selamat, kematian telah memanggil mereka untuk bertemu dengan kehidupan selanjutnya dan menghadap Ilahi.

Kecelakaan maut itu memberi pelajaran dan membuktikan bahwa kematian tidak pernah sungkan kepada siapa pun. Tak takut kepada siapa pun dan tak mengenal siapa yang Ia panggil. Pasti akan didatanginya. Direnggut nyawanya. Dan tak seorang pun bisa mengelak.

Ibu mantan menteri kesehatan RI, meski telah mendapatkan perawatan intensif, akhirnya meninggal karena sakit kanker paru-paru yang menggerogotinya. Beberapa pekan lalu pun tokoh-tokoh besar negeri ini tersungkur oleh kematian. Seperti mantan Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkobkamtib) Sudomo yang meninggal di RS. Pondok Indah, Jakarta Selatan pada pertengahan April 2012.

Sehari sesudahnya, kematian menjemput mantan hakim agung Bismar Siregar, di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Selang beberapa hari sesudahnya, Wamen ESDM Widjadjono Partowidagdo menyusul menghadap Allah saat melakukan perjalanan mendaki Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat.

Keempat tokoh yang telah disebutkan memiliki spesialisasi dalam bidang yang berbeda-beda. Kemiliteran, hukum, ahli perminyakan, dan kesehatan. Semua tak mampu mengalahkan kematian. Sudomo dengan bedilnya tak bisa menewaskan kematian. Bismar dengan kekuatan palunya untuk menetapkan vonis juga tak bisa memenjarakan kematian. Widjadjono juga demikian. Seahli-ahlinya dia dalam menerka jumlah minyak di perut bumi tak juga memberikan manfaat untuknya dalam menerka datangnya kematian. Terlebih Endang, walau ahli kesehatan ternyata tubuhnya digerogoti penyakit lebih dari setahun sehingga mengantarkannya kepada kematian. Lalu kita, ahli apakah kita? Pasti kematian juga datang. Mengambil paksa sesuatu yang kita anggap paling berharga.

Setiap kita pasti akan berhadapan dengan kematian karena itu adalah keniscayaan. Seseorang yang cerdas, ia sadar kematian akan menjemputnya. Kekayaan akan ditinggalkan. Begitu pula istri dan anak-anak pasti akan berpisah dengannya. Rumah megah, mobil mewah, dan tempat usaha yang dimiliki pun akan dipisahkan oleh kematian. Karena semua yang ada di dunia tidak kekal. Semua fana dan kita akan dikembalikan kepada pemilik kita Allah SWT. Hendaknya setiap kita menyadari hakikat ini. Lalu berbekal diri untuk perjalanan sesudah mati.

Allah Ta’ala berfirman, “…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197). Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga hal yang mengikuti (menghantarkan ke kuburan) mayyit: keluarga, harta, dan amalnya. Lalu keluarga dan hartanya kembali ke rumah, sedangkan amalnya yang tetap membersamainya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Sesungguhnya amal saleh saat masih hidup itulah yang benar-benar memberikan manfaat kepada kita. Maka hendaknya, saat masih sehat dan punya banyak harta, kita menyedekahkan harta. Sebab harta tersebut tidak memberikan manfaat saat semua orang berlepas diri darinya. Sebaliknya, harta tersebut menjadi rebutan ahli waris.

Demikian pula keluarga. Kesedihan dan duka mereka tidak menambah kebaikan untuk. Kecuali mereka yang saleh yang mau memintakan ampun dan mendoakan untuk si mayit. Oleh karenanya, para orangtua harus serius mendidik dan membina keluarganya dengan baik sesuai ajaran Islam.

Semoga kita menjadi manusia cerdas. Selalu ingat sebuah kepastian, yakni kematian. Tidak bisa tidak, kita pasti menemuinya. Sehingga terus menyiapkan bekal dengan iman dan amal saleh. Jangan gemerlapnya dunia melalaikan kita dari kepastian ini. Jangan pula setan sang penipu memperdaya kita dari kehidupan akhirat. “…Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.” (QS. Luqman [31]: 33).

 

(Iha Nurhayati, script writer di MQ FM Bandung)

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s