Masyarakat Bertauhid, Kabarmu Kini!

Membincang masyarakat bertauhid berarti membincang sekumpulan individu yang bernilai dan berkarakteristik serupa. Yaitu mengimani Allah sebagai rabb (tuhan) dan menolak thagut (sesembahan selain Allah). Kumpulan individu (masyarakat) ini kemudian diikat oleh kalimat tauhid, la illah ha illallah. Implikasinya, mahabbah danwala’ (cinta dan loyalitas) diperuntukkan untuk Allah danber-baro (melepaskan diri/disasiosiasi) dari segala macam thaghut.

 

Kita dapat juga menyebutkan bahwa masyarakat bertauhid adalah masyarakat yang menjadikan tauhid sebagai awal danakhir dalam perjalanan hidupnya. Sebagaimana perkataanIbnul Qayyim dalam kitab Nuniyahnya,”Untuk Yang Satu, jadilah yang satu, di atas yang satu.

 

Bila dijabarkan perkataan dari ulama karismatik ini adalah “untuk yang satu”, yaitu untuk Allah semata, bukan untuk illah-illah selain-Nya. Adapun “jadilah yang satu”, yakni dalam mengarahkan maksud dan keinginan hati hendaknya “di atas yang satu”, yaitu di atas satu jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw.Satu jalan (Islam), satu tujuan (ibadah kepada Allah), dan satu sesembahan (Allah SWT). Inilah karakteristik dari masyarakat bertauhid.

 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu…” (QS. an-Nahl [16]: 36).

 

“…padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. a-Taubah [9]: 31).

 

“…maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)...” (QS. az-Zumar [75]: 2-3).

 

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…” (QS. al-Bayyinah [98]: 5).

 

Satu Jalan, Satu Tujuan, Satu Sesembahan

Hanya, sejarah mencatat bahwa membentuk masyarakat bertauhid tidak sederhana seperti mendefinisikannya. Satu jalan, satu tujuan, satu sesembahan mudah untuk diikrarkan, tapi teramat pelik ketika dijalankan. Dalam dimensi personal (pribadi), mungkin saja ikrar ‘satu jalan, satu tujuan, satu sesembahan’ itu mudah diamalkan. Namun, ketika ikrar tauhid tersebut diletakkan dalam dimensi sosial dan politik, maka pengamalannya menjadi lebih sulit.

 

Padahal kita tahu bahwa tauhid tak hanya memiliki dimensi pribadi, tapi juga mencakup dimensi sosialdan politik. Keimanan tak boleh dibatasi hanya seputar aktivitas peribadatan (maulud, hajatan penikahan, dan lain-lain), ibadah ritual keagamaan (salat, puasa, haji, dan sebagainya), hukum fikih (yurisprudensi Islam), serta beragam dogma teologis. Keimanan harus bersifat holistik dengan merengkuh dimensi sosial dan politik dalam bingkai tauhid.

 

Tauhid tak hanya bicara tentang bagaimana seseorang saleh secara pribadi, namun juga ia harus saleh secara sosial. Adapun saleh secara sosial dapat teraktualkan secara sempurna ketika orang tersebut ada dalam masyarakat bertauhid. Masyarakat yang tunduk kepada aturan-aturan dari Allah. Bukan sebaliknya, tunduk dan mengekor pada aturan-aturan buatan manusia.

 

Hal inilah yang menjadi titik temu mengapa dakwah para nabi tak hanya menyoal membentuk pribadi-pribadi manusia yang murni tauhidnya. Tetapi juga merambah pada bagaimana membentuk masyarakat (dimensi sosial) dan peradaban (dimensi politik) yang tercelup aturan-aturan Rabb semesta Alam. Tak mengherankan bila kisah-kisah para nabi yang diceritakan dalam Quran selalu berkonfrontasi dengan penguasa-penguasa zalim seperti Namrud atau Firaun. Simbol dari thagut yang mengambil hak Allah untuk disembah dan ditaati.

 

Kembali pada persoalan mengenai masyarakat bertauhid, ada jalan panjang yang harus dilalui saat hendak membentuknya. Jalan panjang tersebut telah dimulai saat Nabi Adam Allah turunkan ke bumi. Mendapat bentuknya pada masa dakwah Nabi Ibrahim, dan menjadi sempurna saat Nabi Muhammad diangkat oleh Allah menjadi rasul.

 

Sepanjang masa tersebut, sejarah kehidupan peradaban manusia terpolakan menjadi dua. Peradaban yang masyarakatnya tunduk dan patuh kepada Allah (masyarakat bertauhid), dan peradaban dengan masyarakat yang menghambakan dirinya kepada thagut (masyarakat kufur).

 

Masyarakat Anti Thagut

Apa itu thagut? Mengapa saat berbicara tentang masyarakat bertauhid, persoalan thagut tak bisa dilepaskan? Thaghut secara bahasa maknanya adalah melampaui batas, sedangkan makna syar’ii adalah segala yang dilampaui batasnya oleh si hamba, baik itu yang diibadati maupun diikuti atau ditaati.

 

Mengacu tulisan dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi tentang thagut (Risalah Fi Maknaat-Thaghut), ulama ini berhujah bahwa thaghut mencakup segala sesuatu yang disembah selain Allah sedangkan dia rela dengan peribadatan tersebut, baik yang disembah atau yang diikuti, atau yang ditaati dalam bukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

Ia juga menyatakan bahwa pesan abadi dakwah para nabi dan rasul Allah ialah ajakan tauhid yang berisi keharusan menghamba kepada Allah dan menjauhi thaghut. Tidak sah iman seorang muslim bila ia hanya sibuk menghamba kepada Allah, namun tidak bersedia menjauhi dan mengingkari thaghut. Bagaimana mungkin seorang yang mengaku muslim dikatakan bertauhid bilamana di satu sisi ia beribadah kepada Allah, namun di lain sisi ia mendekat bahkan bekerja sama dengan thaghut?

 

Pemikiran bernas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi ini berpijak pada landasan yang kuat. Dalam Quran surah al-Baqarah [2]: 256 Allah berfirman, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan)“Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

 

Ayat ini secara gamblang menyatakan bahwa Allah mengutus para rasul agar memerintahkan kaumnya menyembah Allah saja dan menjauhi thagut. Menginformasikan bahwa kunci keimanan seorang muslim tak hanya menerima Allah sebagai rabb-nya, tapi juga harus mengingkari thagut. “…sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghutdan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…” (QS. al-Baqarah [2]: 256).

 

Begitu pula karakteristik masyarakat bertauhid. Tidak bisa suatu masyarakat disebut sebagai masyarakat bertauhid bila tidak menjadikan Allah sebagai illahnya. Atau menjadikan Allah sebagai illah, tapi di sisi lain tidak mau menolak thagut. Masyarakat seperti ini tidak dapat digolongkan sebagai masyarakat bertauhid, namun ia sejatinya adalah masyarakat sekuler yang sebelas dua belas dengan masyarakat kufur.

 

Thagut sebagai sesembahan selain Allah, jenisnya amat banyak. Hanya saja secara umum dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis, yakni:

1. Setan/iblis.

 

Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu, makaapakah kamu tidak memikirkan?” (QS. Yaa Siin [36]: 60-62).

 

2. Penguasa zalim yang tidak berhukum pada hukum Allah (Quran), termasuk juga perumus undang-undang yang mengikari hukum-Nya.

 

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. Asy Syuura [42]: 21).

3. Hakim yang tidak memutuskan suatu perkara menurut apa yang diturunkan Allah (Quran).

“…barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maidah [5]: 44).

4. Orang yang mengaku mengetahui hal gaib.

Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. an-Naml [27]: 65).
5. Seseorang atau sesuatu yang disembah dan diminta pertolongan oleh manusia selain Allah, sedangkan ia rela dengan perlakuan tersebut.

Dan barang siapa di antara mereka, mengatakan: ‘Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (QS. al-Anbiyaa’ [21]: 29).

Meniti Jalan Masyarakat Bertauhid

Lalu, bagaimana kondisi umat saat ini? Masihkah eksistensi masyarakat bertauhid berdiri kokoh? Bila kita berkaca pada sejarah dan mau jujur mengakuinya, secara kasat mata tidak ada masyarakat bertauhid seperti masa Rasulullah dan belasan abad setelahnya. Khususnya, sejak kekhalifahan Turki Utsmani runtuh pada awal abad ke-20, sejak itu pula umat Islam tercerai-berai tanpa satu kepemimpinan.

 

Masyarakat bertauhid hanya ada dalam tataran tertulis, tapi nihil dipraktikkan. Umat dipimpin oleh penguasa zalim dan mengacuhkan aturan Allah. Namun, bukan berarti eksistensi dari masyarakat bertauhid jadi sirna. Ibarat siklus matahari, ada masa ia terbit dan terlihat jelas oleh mata. Ada masanya pula ia tengggelam dan hilang ditelan gelapnya malam, tapi bukan berarti ekssistensi matahari itu ikutan pupus. Nah, seperti itu pulalah kondisi sejatinya masyarakat bertauhid saat ini.

 

Beragam upaya dilakukan oleh umat Islam untuk meniti kembali jalan mewujudkan masyarakat bertauhid. Ragam cara pun dilakukan, mulai dari pendekatan akhlak, penegakkan daulah atau khilafah, pembenahan akidah, dan usaha lainnya. Manakah dari upaya-upaya ini yang efektif? Jawabnya, jalan yang pernah ditempuh oleh Rasullah saw 14 abad silam. Jalan menjadikan tauhid sebagai prioritas pertama dan utama dalam berdakwah (jalan tauhid). Tentunya tanpa mengabaikan aspek keagamaan laiannya, seperti ibadah, akhlak, dan muamalah.

 

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulallah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia (Rasulallah) banyak menyebut nama Allah.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).

 

Bila tauhid yang murni telah terealisasi dalam kehidupan, baik secara individu (pribadi bertuhid) dan bermasyarakat (masyarakat bertauhid), insya Allah akan mengantarkan pada keridhaan Allah dunia akhirat. Wallahu ‘alam bi shawab(Suhendri Cahya Purnama)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/3/1871/Masyarakat%20Bertauhid,%20Kabarmu%20Kini!

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s