Manajemen Utang

Rustandi: “Dari diskusi kita sebelumnya, saya baru memahami bahwa masalah utang piutang ada juga ya ilmunya agar kita bisa keluar dari masalah itu dengan baik.”

 

Hemri: “Iya. Setiap masalah insya Allah ada solusinya. Kita mengalami kesulitan dalam menghadapi suatu masalah karena kita belum tahu cara atau ilmu untuk menyelesaikan masalah tersebut.”

 

Rustandi: “Kembali tentang masalah utang, ada yang bilang jika kita memiliki banyak sumber utang, sebaiknya lunasi utang-utang yang lain. Pindahkan menjadi hanya satu sumber utang saja. Bagaimana kang Hemri, apa betul begitu?”

 

Hemri: “Mungkin maksud dari saran itu adalah agar secara psikologis kita fokus kepada satu sumber utang saja. Bisa juga maksudnya agar tidak ribet berhadapan dengan banyak penagih utang. Namun secara manajemen keuangan Islami, yang jadi dasar memindahkan sumber utang bukan itu. Jika ada sumber utang yang menggunakan bunga, sebaiknya kita ikhtiarkan untuk dilunasi dan berganti dengan sumber utang yang syariah. Selain itu kita menutup satu utang dan mengganti dengan sumber utang yang lain, ketika sumber utang yang baru biaya dananya lebih ringan atau besar cicilannya lebih ringan.”

 

Rustandi: “Ooo… begitu ya kang. Jadi dasar kenapa kita memindahkan dari sumber utang kepada sumber utang yang lain adalah karena aspek syariah atau karena faktor pertimbangan keuangan. Dalam hal ini adalah mencari yang lebih kecil biaya dananya atau pun besar cicilannya lebih ringan. Puntenkang, maksud dari biaya dana itu apa ya?”

 

Hemri: “Maksud saya tentang biaya dana disini adalah biaya-biaya yang kita keluarkan untuk membayar utang, baik itu bunga untuk sistem yang konvensional, margin atau bagi hasil jika sistemnya syariah. Selain itu, perlu diperhatikan biaya-biaya lainnya seperti biaya administrasi transfer uang. Biasanya jika transfer ke lain bank, biaya transportasi membayar utang, dan lain-lain. Sekadar informasi, ada lembaga keuangan yang mengharuskan kita datang ke kantor lembaga keuangan untuk menyetor cicilan. Ada juga lembaga keuangan yang petugasnya datang ke tempat kita untuk mengambil setoran sehingga secara rutin, kita hemat ongkos.”

 

Rustandi: “Ada pertanyaan lagi nih. Kalau kita kemudian alhamdulillah tiba-tiba memiliki dana cukup, manakah sebaiknya yang lebih dahulu kita lunasi dari sumber utang-utang kita?”

 

Hemri: “Jika sumber utang kita ada yang berasal dari individu atau lembaga yang bukan lembaga keuangan komersil, sebaiknya kita lunasi sumber utang yang paling membutuhkan atau memberi manfaat kepada pemberi utang kita tersebut. Misalnya, kita lunasi saudara kita yang telah memberi utang kepada kita karena ia sedang membutuhkan biaya pengobatan anaknya. Jika sumber-sumber utang kita semuanya lembaga keuangan komersil, maka lunasi kepada sumber pemberi utang kita yang cicilannya paling berat. Sehingga setelah itu, kita menjadi lebih ringan mencicil.”

 

(Iwan Rudi SaktiawanTrainer Menejemen Keuangan Keluarga)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/7/1791/Manajemen%20Utang

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s