Memelihara perut

AKTIVITAS makan ternyata bisa menjadi jalan bagi seseorang untuk mengenal dan lebih akrab dengan Allah Azza wa jalla. Namun, bisa pula menjadi jalan baginya untuk lebih dekat kepada hawa nafsu. Bagi hamba Allah yang telah memahami hakikat makan, tatkala makanan masuk ke dalam perutnya, ia akan memperoleh dua keuntungan sekaligus. Pertama, terpenuhinya hak tubuhnya dan yang kedua sekaligus dapat melunakkan hawa nafsunya. Dengan demikian, maka baginya telah menjadi ladang amal sholeh.
Sebaliknya, bagi siapa saja yang tidak mengerti arti hidup ini, maka baginya makan tidak lebih sekedar memuaskan hawa nafsu belaka. Dengan demikian, makan, tidak bisa tidak, telah menjadi virus yang tanpa ia sadari akan menggerogoti hatinya, sehingga menjadi hancur sehancur-hancurnya. Jelas, bagi orang semacam ini, aktivitas makan hanya akan menjauhkan dirinya dari karunia Allah.
Barang siapa yang hendak dan ingin memiliki hati yang bersih dan memelihara kebeningannya, hendaknya senantiasa menjaga kehati-hatian ketika menghadapi suatu hidangan. Ia tahu persis makna perintah Allah Azza wa jalla,” Hai orang-orang beriman, makanlah diantara rezeki-rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembahNya” (QS.Al-Baqarah:172).
Aktivitas makan itu ternyata bukanlah sekedar untuk mengenyangkan perut, yang berdampak pulihnya kembali tenaga di dalam tubuh. Makan pun bukan sekedar mengecap kenikmatan karena toh nikmatnya makan itu hanya “sepanjang telunjuk” jaraknya dari bibir. Begitu makanan lewat dari tenggorokan, maka tidak akan terasakan lagi nikmatnya. Jadi, kalau demikian, apalah artinya makan kalau hanya sebatas untuk pemenuhan kebutuhan lahir belaka? Orang-orang yang paling bodoh di dunia ini adalah orang yang telah tertipu oleh aktivitas makan. Padahal makan bagi seorang mu’min adalah amal ibadah, bukan untuk menghancurkan ibadah.
Bagi yang ingin memiliki hati yang bersih, ia baru mau menyantap suatu hidangan bila jelas-jelas meyakini kehalalannya. Sebab, satu kali makanan haram masuk ke dalam perut, empat puluh hari amal ibadahnya tidak akan diterima. Kalau menjadi daging, maka haramlah ia masuk syurga. Berdoa dengan bersimbah air mata dan di tempat ijabah sekalipun, tidak akan pernah terkabulkan. Padahal, doa adalah senjata seorang mukmin.

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/1/166/Memelihara%20perut

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s