Rumus Menyikapi Penghinaan

 

Kita akan merasa tidak nyaman Ketika ada orang menghina, mencela, dan menjauhi diri kita. Hati menganggap ini adalah kejadian yang tidak enak. Sebuah musibah dan bala ketika dihina orang. Hati menjadi jengkel, kecewa dan sedih.

 

Rumusnya ketika orang lain menghina, maka segeralah menyimak penghinaan mereka. Bandingkan, apa yang dikatakan orang dengan apa yang Allah ketahui tentang kita. Maksiat mata, maksiat pikiran, maksiat mulut, maksiat yang diam-diam dan tersembunyi. Bandingkan dengan celaan yang menimpa diri kita, mana yang lebih buruk?

 

Sebetulnya penghinaan orang kepada kita jauh lebih baik dibanding keburukan kita yang sebenarnya. Kalau hati lebih sibuk memikirkan perkataan orang daripada memikirkan apa yang Allah ketahui tentang kita, maka itulah musibah yang lebih besar. Lebih buruk daripada cemoohan dan penghinaan orang-orang.

 

Cemoohan itu tidak berbahaya, yang berbahaya adalah kita tidak mengakui segala kebusukan di hadapan Allah. Kalau kita sibuk dengan cemoohan orang, kita tidak bisa bertaubat. Tapi kalau kita sibuk dengan apa yang Allah ketahui tentang kita, maka kita bisa bertaubat karena taubat adalah sumber ketenangan. Taubat juga adalah sumber jalan keluarnya masalah dan mendatangkan rejeki yang tidak disangka-sangka.

 

Jangan merasa berat dengan hinaan dan cemoohan orang karena tidak ada bahaya sama sekali. Yang bahaya itu ketika kita tidak berhasil mengetahui apa yang Allah ketahui tentang kita. Kita tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Orang busuk, banyak dosa, shalat tidak khusyuk, sedekah pelit, penuh maksiat, hati tidak yakin, shalat tidak pernah benar, dan banyak sekali kekurangan yang tidak diketahui orang-orang.

 

Sibuklah dengan apa yang Allah ketahui. Sibuklah dengan taubat daripada cemoohan orang. Perkataan paling jelek sekali pun tentang kita masih lebih bagus dibanding kejelekan kita yang sebenarnya. Harus diingat bahwa jangankan kita, nabi saja yang sempurna dihina. Para ulama yang saleh pun dihina. Para waliyullah juga dihina. Apalagi kita yang hina betulan.

 

Mengapa kita merasa sakit hati? Karena kita terlalu tinggi menilai diri sendiri. Merasa suci, merasa saleh, merasa mulia, dan merasa hebat. Kita tidak jujur pada diri kita dan hal itulah yang menyebabkan hati menjadi sakit. Kalau kita mau jujur, sebenarnya tidak ada apa-apanya penghinaan orang itu.

 

Kita senang dipuji sehingga hidup penuh dengan akal-akalan supaya tetap dipuji. Allah yang Maha Mengetahui segala isi hati. Ia bisa membalikkan orang yang awalnya memuji menjadi mencaci. Mengapa? Supaya kita tidak ‘jinak’ kepada orang yang memuji.

 

Allah Maha Tahu kecenderungan hati kita, jadi jika suatu saat Allah melepaskan kecenderungan tersebut, maka itu adalah karunia dari Allah. Karena itu, ingatlah: Satu, kalau kita dihina orang, carilah apa yang Allah tahu tentang kita. Kedua, kalau ada sesuatu yang diambil dari kita, ketahuilah, periksalah, jangan-jangan yang diambil itu telah menjadi illah kita. Jangan takut apa pun di dunia ini selain takut kahilangan ridha Allah. (KH. Abdullah Gymnastiar, Penasihat dan Pembina DPU Daarut Tauhiid)

http://www.dpu-online.com/artikel/detail/1/1698/Rumus%20Menyikapi%20Penghinaan

By pondokdhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s